Mengawal Kepemimpinan Indonesia di ASEAN: Mendorong Praktik Bisnis yang Inklusif dan Bertanggung Jawab

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 7 Juli 2023 | 22:27 WIB
Pertemuan Nasional Bisnis yang digelar INFID dengan tema Mendorong Proses Bisnis Inklusif dan Bertanggung Jawab dalam Mewujudkan ASEAN sebagai Pusat Pertumbuhan, dan HAM pada 6-7 Juli 2023 di Jakarta. (Pontianak Globe/INFID )
Pertemuan Nasional Bisnis yang digelar INFID dengan tema Mendorong Proses Bisnis Inklusif dan Bertanggung Jawab dalam Mewujudkan ASEAN sebagai Pusat Pertumbuhan, dan HAM pada 6-7 Juli 2023 di Jakarta. (Pontianak Globe/INFID )

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023 yang mengangkat tema ASEAN Matters: Epicentrum of Growth harus mampu mewujudkan ASEAN sebagai rumah bagi bisnis yang inklusif dan bertanggung jawab.

Sebagai upaya strategis untuk mendorong hadirnya kebijakan bisnis yang inklusif, INFID menggelar Pertemuan Nasional Bisnis dan HAM pada 6-7 Juli 2023 Jakarta dengan mengangkat tema Mendorong Proses Bisnis Inklusif dan Bertanggung Jawab dalam Mewujudkan ASEAN sebagai Pusat Pertumbuhan.

INFID bersama masyarakat sipil dan komunitas yang tergabung dalam program GRAISEA (Gender Transformative and Responsible Business Investment in Southeast Asia) fase kedua secara khusus mendorong promosi dan pelaksanaan bisnis yang bertanggung jawab dan investasi pengembangan perempuan dengan pendekatan transformatif gender di Asia Tenggara.

Program ini secara simultan telah melakukan sejumlah kerja nyata, seperti penguatan kapasitas UKM, penguatan sektor privat agar dapat mengembangkan bisnis yang lebih inklusif, bertanggung jawab, dan tangguh, serta mendorong kebijakan nasional dan regional agar menetapkan kerangka kebijakan yang mendorong adopsi model bisnis yang inklusif dan bertanggung jawab.

“Di tingkat nasional misalnya, INFID dan teman-teman masyarakat sipil mendorong pemerintah untuk memasukkan poin pemberdayaan ekonomi perempuan ke dalam strategi nasional bisnis dan HAM (STRANAS BHAM) yang telah masuk program penyusunan perpres tahun 2023 sebagaimana disebut dalam Keppres No 26 Tahun 2022”, terang Iwan Misthohizzaman, Direktur Eksekutif INFID, dalam sambutannya.

Secara global, Indonesia sudah menyetujui sejumlah instrumen dan panduan internasional. Seperti Prinsip-Prinsip Panduan untuk Bisnis dan HAM (United Nations Guiding Principles on Business and Human Rights/UNGPs on BHR) yang dikeluarkan oleh Dewan Sidang HAM PBB tahun 2011.

Selain itu juga ASEAN Inclusive Business Framework (AIBF) 2017, serta Guidelines for the Promotion of Inclusive Business in ASEAN yang diterbitkan oleh ASEAN pada 2020.

Meski demikian, praktik korporasi di Indonesia nyatanya masih rentan dari pelanggaran HAM dan belum inklusif terhadap hak pekerja perempuan.

Catatan Komnas HAM pada 2021 menempatkan korporasi pada urutan kedua pihak paling banyak mendapatkan laporan pelanggaran HAM.

Terdapat sejumlah upaya yang selama ini telah dilakukan INFID bersama CSO lainnya yang tergabung dalam GRAISEA2 untuk mendorong secara nasional dan regional rantai nilai bisnis yang transformatif gender dan inklusif.

“Kalyanamitra misalnya, telah melakukan advokasi agenda keadilan ekonomi dalam perspektif feminis atau Feminist Economic Justice Agenda (FEJA) di tingkat ASEAN dan nasional agar agenda kesetaraan gender menjadi landasan dan prioritas dalam pembuatan kebijakan pembangunan ekonomi di ASEAN dan negara-negara anggotanya. Upaya tersebut dilakukan bersama jaringan Weaving Women’s Voices in Southeast Asia (WEAVE), sebuah jaringan regional yang melakukan advokasi hak perempuan di ASEAN,” terang Rena Herdiyani, Wakil Ketua Keorganisasian Kalyanamitra, salah satu CSO yang tergabung dalam GRAISEA2.

Suara dan pengalaman perempuan dengan beragam konteks sangat penting menjadi rujukan dalam pembuatan kebijakan.

Hal ini menjadi fokus Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil Mikro (ASPPUK) yang mengambil peran dalam pemberdayaan ekonomi perempuan melalui usaha kecil dan menengah (UKM).

“Usaha budidaya perikanan di Indonesia memiliki produksi yang tinggi dan potensi besar di masa depan. Sayangnya, di tengah potensi ekonomi tersebut, perempuan nelayan masih menghadapi kendala dalam hal pengakuan hingga sulit mendapat akses minim terhadap program pemerintah,” ungkap Emmy, Direktur Eksekutif ASPPUK, CSO yang juga tergabung dalam GRAISEA2.

Oleh karena itu, ASEAN harus menciptakan ruang aman dan membangun sistem yang inklusif bagi kelompok perempuan marjinal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X