Tuduhan pemberontakan merupakan kejahatan serius di Korea Selatan, dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup atau bahkan hukuman mati.
Sementara itu, beberapa pejabat senior, termasuk menteri pertahanan dan kepala polisi, telah ditangkap atas peran mereka dalam mendukung darurat militer tersebut.
Pendukung Yoon, yang mayoritas adalah warga lanjut usia, berkumpul di luar kediaman presiden dengan membawa spanduk dan menyerukan dukungan.
Beberapa di antaranya bahkan menyatakan kesiapan untuk menghadang penyidik dengan nyawa mereka.
Pidato penuh semangat terdengar di antara kerumunan, sementara meja-meja penyedia teh dan mi instan melayani para demonstran.
Salah satu pendukung bahkan berharap Donald Trump, yang akan kembali menjadi presiden AS akhir bulan ini, dapat membantu Yoon keluar dari krisis.
Para penyelidik masih memiliki beberapa opsi sebelum surat perintah penangkapan berakhir, termasuk mengajukan perpanjangan surat perintah atau mencari alternatif legal lain.
Di sisi lain, sidang kedua pengadilan konstitusi terkait kasus pemakzulan Yoon dijadwalkan berlangsung hari ini.
Krisis politik ini menyoroti perpecahan mendalam di Korea Selatan, dengan media konservatif pun mengkritik Yoon secara tajam.
Editorial Chosun Ilbo menyebut perilaku Yoon sebagai “tidak pantas untuk seorang presiden,” sementara Dong-A Ilbo menggambarkannya sebagai “memalukan.”
Bagaimana akhir dari drama politik ini masih belum jelas, tetapi satu hal pasti: Korea Selatan tengah menghadapi salah satu tantangan demokrasi terbesar dalam sejarah modernnya. ***
Artikel Terkait
Korea Selatan Siap Meresmikan Unit Investigasi Crypto untuk Melawan Lonjakan Kejahatan
Korea Selatan Bertekad Membuat Unit Investigasi Kejahatan Crypto Menjadi Permanen
Rony Agustinus, Pelatih Indonesia yang Bawa Bulutangkis Korea Selatan Bersinar
Han Kang, Novelis Korea Selatan, Raih Nobel Sastra 2024, Menjadi Wanita Asia Pertama Raih Nobel
3 Fakta Terbaru Kasus Darurat Militer di Korea Selatan yang Mengguncang Dunia Internasional
Update Kecelakaan Jeju Air di Korea Selatan, 85 Orang Tewas, Penyebab Masih Diselidiki