PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Politikus PDI Perjuangan, Arteria Dahlan, mengungkapkan cerita di balik keputusannya mundur sebagai calon legislatif (caleg) DPR RI dari PDI Perjuangan di daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur VI.
Dapil Jawa Timur VI, di mana PDI Perjuangan mendapatkan dua kursi, awalnya diisi oleh Pulung Agustanto dan Sri Rahayu.
Setelah mundurnya Sri Rahayu, kursi kedua seharusnya jatuh ke Arteria Dahlan, yang memperoleh suara terbanyak ketiga.
Namun, Arteria juga memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisinya.
Sebagai hasilnya, Romy Soekarno, yang mendapatkan 51.245 suara, ditetapkan sebagai caleg terpilih menggantikan Sri Rahayu dan Arteria Dahlan.
Romy adalah cucu Bung Karno melalui Rachmawati Soekarnoputri.
Baca Juga: FKES San Agustin Pontianak Koordinir Kegiatan Donor Darah
Pilih Tak Melawan, Menghormati Keluarga Besar Bung Karno
Arteria memilih jalan berbeda dari beberapa caleg lain yang memutuskan untuk 'melawan' keputusan partai.
Ia mengaku menghormati langkah hukum yang diambil oleh Tia Rahmania, caleg PDIP di dapil Banten I yang menggugat partai.
Namun, Arteria memutuskan untuk tidak mengambil jalur serupa.
Ia mengatakan bisa seperti sekarang karena dibesarkan dan dibimbing oleh Megawati dan almarhum Taufiq Kiemas.
Baca Juga: Topan Yagi Mengancam Beberapa Negara Asia Tenggara, Begini Dampaknya bagi Indonesia
"Kini, di bawah bimbingan Mbak Puan Maharani. Semua ini berkat budi baik Keluarga Besar Bung Karno yang tidak bisa saya balas selain dengan loyalitas dan kesetiaan," ujar Arteria.
Artikel Terkait
PDIP Umumkan 9 Pasangan Calon yang Didukung di Pilkada Kalbar, Termasuk Pasangan Karolin-Erani
PDIP Berencana Berkoalisi dengan Golkar untuk Mengusung Airin di Pilgub Banten
Pasangan Sujiwo-Sukiryanto Resmi Terima Rekomendasi PDIP untuk Pilkada Kubu Raya 2024
PDIP Sekadau Matangkan Strategi Menangkan Pilkada 2024 dengan Mengusung Martinus Sudarno
Ini Tanggapan Krisantus Kurniawan Terkait Namanya Dipilih PDIP Untuk Mendampingi Ria Norsan di Pilgub Kalbar 2024
Caleg Terpilih PDIP Tia Rahmania Dipecat dan Gagal Dilantik ke Senayan, Isu Kontroversi Penggelembungan Suara Serta Deretan Kasus Gagal Pelantikan