Prabowo Mendorong Indonesia Menuju Kemandirian: Kita Harus Waspada terhadap Intensi Negara Lain

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Sabtu, 20 Januari 2024 | 10:27 WIB
Prabowo dalam pertemuan dengan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) di Graha Oikumene, Jakarta, pada Jumat, 19 Januari 2024. (Dok. Pontianak Globe)
Prabowo dalam pertemuan dengan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) di Graha Oikumene, Jakarta, pada Jumat, 19 Januari 2024. (Dok. Pontianak Globe)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Calon Presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto, menegaskan pentingnya Indonesia menjadi negara mandiri yang mampu mengelola kekayaan alamnya dengan bijak.

Ia juga memberikan peringatan bahwa intensi dari bangsa lain tidak selalu bersifat baik, mengingat bahwa tidak ada persahabatan yang abadi.

Baca Juga: Pemerintah Perpanjang Daftar KTP Beli LPG 3 Kg, Apa Tujuannya?

"Saya selalu mengingatkan untuk berhati-hati, karena persaingan antar bangsa dapat menjadi kejam. Jangan sekali-kali mengira bahwa bangsa lain memiliki simpati terhadap kita. There are no permanent friends and no permanent enemies, only permanent interests," kata Prabowo dalam pertemuan dengan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) di Graha Oikumene, Jakarta, pada Jumat, 19 Januari 2024.

Prabowo melanjutkan dengan menjelaskan bahwa kepentingan abadi (permanent interest) merujuk pada keinginan suatu negara untuk selalu memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri.

Oleh karena itu, Indonesia perlu bijaksana mengelola kekayaan alamnya yang banyak diminati oleh bangsa lain selama berabad-abad.

Baca Juga: Pemerintah Akan Ubah Skema Subsidi LPG 3 Kg Jadi Tunai, Ini Bocorannya

"Kepentingan abadi adalah keinginan untuk memastikan kesejahteraan bagi seluruh bangsa, etnis, negara, dan kelompok manusia. Indonesia harus bijaksana karena kekayaan alamnya telah menjadi incaran berbagai bangsa sejak berabad-abad yang lalu," ungkapnya.

Dengan pengelolaan yang tepat, Prabowo meyakini Indonesia dapat menjadi lumbung pangan dunia.

Selain itu, terdapat potensi besar untuk mencapai swasembada energi melalui pemanfaatan energi hijau.

Baca Juga: MoU PSSI dan RS Abdi Waluyo: Erick Thohir, Sains Olahraga Penting dalam Transformasi Sepakbola

"Energi hijau kita adalah salah satu yang paling diinginkan oleh banyak negara. Kita memiliki potensi untuk menjadi 100 persen mandiri dalam hal energi hijau yang dihasilkan dari dalam negeri sendiri," kata Prabowo.

Ia memberikan contoh tentang pengolahan biosolar dari kelapa sawit, yang jika diolah secara maksimal, diperkirakan dapat menghemat sekitar 25 miliar dolar per tahun bagi Indonesia.

"Saat ini, kita sudah dapat menghasilkan B35 persen biosolar dari kelapa sawit, yang dapat menghemat sekitar 10 miliar dolar devisanya setiap tahun. Jika kita menuju ke B100 persen, kita bahkan bisa menghemat sekitar 25 miliar dolar per tahun," tambah Prabowo. ***

Baca Juga: 11 Rekomendasi Destinasi Gratis Terbaik di Sydney Australia

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X