Profesor Jepang Mariko Ohara Bagikan Pengalaman Keperawatan Bencana di Seminar Internasional di San Agustin

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Senin, 11 September 2023 | 16:47 WIB
Pojok kiri, Moderator : Mustika Aji Hartanto,MA, Tengah (Narasumber : Mariko Ohara RN,PhD), pojok kanan (Translator: Yohana Yusmarita) (Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak)
Pojok kiri, Moderator : Mustika Aji Hartanto,MA, Tengah (Narasumber : Mariko Ohara RN,PhD), pojok kanan (Translator: Yohana Yusmarita) (Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak)

Pasien dikelompokkan menjadi beberapa kategori, seperti "darurat" (urgensi tinggi), "pengawasan" (urgensi menengah), dan "tidak mendesak" (urgensi rendah), sehingga tim medis dapat merespons dengan tepat sesuai dengan kebutuhan pasien masing-masing.

Triase juga dapat mengidentifikasi pasien yang memerlukan perhatian segera dan pasien yang dapat ditangani lebih lambat.

Menurutnya, hal itu dilakukan kembali di lapangan, selama transportasi, saat kedatangan di rumah sakit, selama perawatan, dan pada saat masuk Triage START → menyaring pasien, Triage SORT → harus dilakukan untuk mengklasifikasikan tingkat kedaruratan dan keparahan.

Pentingnya pengobatan dan perawatan selama bencana meurupakan pokok utama dalam presentasi Mariko.

Dia aktif terlibat dalam upaya perawatan kesehatan terhadap korban bencana, termasuk pengembangan sistem perawatan medis setelah gempa besar yang terjadi di Hanshin-Awaji.

Mariko juga berbicara tentang langkah-langkah yang diperlukan untuk mengembangkan keperawatan bencana di Jepang, termasuk pendirian rumah sakit berbasis bencana di seluruh negeri, sistem informasi medis yang kuat, serta tim medis dan asisten medis yang siap bertindak saat terjadi gempa.

Dia menjelaskan bahwa kurikulum keperawatan bencana di Jepang dimulai pada tahun 2009, dan sejak saat itu, semua universitas kesehatan di negara tersebut menerapkannya. Bahkan ada sertifikat khusus untuk perawat bencana.

Mariko Ohara menyoroti empat poin penting yang harus diperhatikan dalam menghadapi bencana, termasuk upaya pencegahan, perhatian yang intens terhadap kebutuhan saat bencana terjadi, serta pentingnya kolaborasi masyarakat sebagai tim yang kuat untuk mengatasi masalah ini.

Ketika ditanya tentang kendala evakuasi di Indonesia terkait ketidaksetujuan masyarakat untuk dievakuasi, Mariko berbagi pengalaman di negaranya dalam menghadapi situasi serupa.

Dia menekankan pentingnya pendidikan kepada masyarakat melalui televisi dan pengeras suara di tiap daerah, yang dapat memberikan panduan saat terjadi bencana.

Mariko Ohara mengapresiasi budaya gotong royong di Indonesia dan mengusulkan agar tenaga medis memberikan pendidikan atau seminar kepada masyarakat untuk memastikan persiapan yang lebih baik dalam menghadapi bencana. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X