edukasi

Profesor Baik Hati (Bagian 1):  Akuntabel Banget

Sabtu, 12 November 2022 | 09:44 WIB
Ilustrasi Profesor (pixabay.com) (pixabay)

Oleh: Leo Sutrisno

Prof Baik Hati, di kampusnya termasuk dosen senior. Kabarnya, dua tahun lagi sudah memasuki masa purna bakti. Hari ini saya mengunjungi kantornya. Kantor yang sangat sederhana.

Ruang yang seluang 2m x 2m itu diisi satu meja kerja dan kursi yang usianya sudah seusia saya, 25 tahun. Kabarnya sejak masuk di ruang itu belum pernah diganti. Namun demikian, tetap terlihat rapi dan bersih.

Di dinding samping, memanjang dari pintu hingga samping mejanya berdiri rak buku. Semua buku tertata rapi. Buku-buku disusun menurut subyeknya.

“Selamat pagi, Prof.” Salamku dengan penuh hormat.

“Selamat pagi, ayo masuk, Mas”. Katanya sambil menggenggam hangat telapak tanganku.

“Maaf, siapa nama, Mas. Sudah suka lupa.”

“Gregory, Prof.” Jawabku pendek.

“Rasanya bukan itu, kalau saya tidak salah dengar,” Responsnya.

BACA JUGA: Cukup Bawa Uang Rp2,4 Jutaan Kamu Bisa Bawa Pulang Realme 10. Ini Alasan Mengapa Kamu Harus Pilih Realme 10

“Lengkapnya panjang, Prof. Syukurlah, belum lebih dari 60 hurup”. Jawabku mencoba ‘berlagak sok santai’.

“Kenapa?” Tanyanya.

“Itu Prof, SK Mendagri tentang KTP terbaru yang terbit beberapa bulan yang lalu,” jelasku.

“O, ya, saya ingat. Nama yang terlalu pendek atau terlalu panjang memang sangat merepotkan di era digital ini. kemana pun kita mesti ngisi ‘form’ dengan jumlah kolom tertentu yang standar. Saya, dulu ketika berangkat ke luar negeri pertama kali juga harus berurusan dengan kolom nama. Mana yang ‘first name’, ‘middle name’ dan yang ‘last name’” Setelah jeda, ia melanjutkan.

“Nama asli saya, pemberian orang tua cuma satu kata, ‘Baik’. Nah, ketika membuat paspor, petugas menanyakan ‘last name’-nya ditulis apa?. Saya juga bingung tak bisa menjawab. Lalu petugas itu bilang ‘saya tulis hati, ya?!. Jadilah Baik Hati menjadi nama ‘resmi saya, hingga kini”. Jelasnya dengan senyum ramah.

Halaman:

Tags

Terkini