Pentingnya Tafsir dan Pengelolaan Kebijakan
Hermeneutika mengajarkan bahwa setiap ‘teks’ (teks; bisa budaya, manusia, keadaan) atau situasi dapat memiliki berbagai penafsiran yang valid, bergantung pada perspektif, situasi dan konteksnya.
Manajemen ditantangan dalam ‘ruang’ dilema kejelasan dan konsistensi penting untuk menghindari ketidakpastian dan konflik.
Dalam konteks manajemen, bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi tetapi sebagai alat untuk membentuk persepsi dan keputusan.
Kebijakan organisasi, misalnya, sering kali merupakan hasil dari interpretasi terhadap data dan situasi yang kompleks.
Penggunaan bahasa yang tepat dan konsisten dapat membantu dalam mengelola keberagaman interpretasi di antara berbagai stakeholder organisasi.
Bahasa dalam Dinamika Organisasi
Teori Hermeneutika menekankan bahwa setiap interpretasi atau tafsir terhadap suatu fenomena adalah ‘proses’ yang terus berubah dan berkembang.
Seluruh kehidupan itu menafsir, itu menurut hermeneutik. Termasuk didalamnya, kehidupan tak ada hal yang tanpa tafsir. Bahaya nanti lantas kehilangan pegangan yang kokoh jika semua orang ikut untuk menafsirkan.
Jelas bahwa dampaknya serius. Memang segalanya tak ada hal yang tanpa tafsir. Kemudian, bahasa itu apa? dulu bahasa adalah cermin realitas.
Tapi hermeneutika melihat bahasa merupakan tafsir pada tingkat paling dasar.
Bahasa – tafsir paling dasar. Kamus adalah tafsir pertama – yang menyangkut ‘naming’ (penamaan).
Bahasa adalah kerangka yang membentuk cara pandang kita. (Kebalikannya cara pikir kita dibentuk oleh bahasa).
Dalam konteks manajemen berarti kebijakan dan strategi perlu terus menerus dinilai ulang dan disesuaikan sesuai dengan perkembangan baru dan pemahaman yang mendalam terhadap situasi yang ada.
Dari sudut ini ‘bahasa’ bukanlah 1 banding 1 (1 ≠ 1) namun lebih tepat bahwa ‘bahasa’ merupakan lensa berwarna. “Bahasa menentukan tafsir kita atas realitas” bahasa itulah membentuk objek.