Menurutnya, pesawat AMA Air diduga mengangkut personel maupun logistik militer Indonesia ke wilayah operasi mereka.
TPNPB juga mengaku telah melarang seluruh penerbangan sipil memasuki kawasan yang mereka sebut sebagai zona konflik dan mengancam akan menyerang pesawat lain yang dianggap mendukung operasi aparat keamanan.
Baca Juga: Setelah 1,7 Tahun Disandera, Pilot Susi Air Philip Terharu Video Call dengan Keluarga
Direktur PT AMA, Bob Kayadu, membantah tuduhan tersebut.
Ia menegaskan seluruh muatan pesawat dapat diverifikasi melalui manifes penerbangan.
Menurut Bob, sesuai prosedur operasional perusahaan, AMA tidak pernah mengangkut personel militer, senjata, maupun amunisi.
"Silakan dicek melalui manifes. Kami tidak pernah membawa barang-barang militer," ujarnya.
Pernyataan serupa disampaikan Uskup Jayapura sekaligus Komisaris PT AMA, Mgr Yanuarius Theofilus Matopai You.
Ia menegaskan maskapai AMA selama 67 tahun beroperasi murni melayani misi kemanusiaan, seperti mengangkut tenaga kesehatan, guru, rohaniwan, logistik, dan kebutuhan masyarakat di wilayah pedalaman Papua.
Menurutnya, pembunuhan terhadap pilot serta pembakaran pesawat merupakan tindakan yang tidak berperikemanusiaan sekaligus pukulan berat bagi pelayanan Gereja di Papua.
Pemerintah AS Ikut Memantau
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan terus berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia terkait insiden tersebut.
Melalui Departemen Luar Negeri, pemerintah AS menyebut keselamatan warga negaranya menjadi prioritas dan memastikan komunikasi dengan otoritas Indonesia maupun keluarga korban terus dilakukan.
Koops TNI Habema mengevakuasi jenazah Nicholas F Goselin pada Jumat, 3 Juli 2026 melalui operasi khusus menggunakan dua helikopter Caracal.
Operasi dilakukan di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 2.292 meter di atas permukaan laut yang hanya dapat diakses melalui jalur udara.