Pengelolaan Sampah Harus Berubah
Dalam seminar yang sama, Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda Kementerian Lingkungan Hidup, Marinus Kristiadi Harun, menyoroti persoalan sampah yang kini menjadi bagian dari triple planetary crisis, yakni krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
Menurut Marinus, pola pengelolaan sampah yang selama ini mengandalkan sistem kumpul, angkut, dan buang sudah tidak memadai.
"Pendekatan tersebut tidak lagi mampu menjawab tantangan masa depan," katanya.
Ia menjelaskan sebagian besar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Indonesia masih menggunakan sistem open dumping yang menghasilkan emisi gas metana dalam jumlah besar.
Kondisi ini tidak hanya mempercepat perubahan iklim, tetapi juga mencemari lingkungan sekitar.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, Marinus mendorong tiga langkah utama, yakni pengelolaan sampah dari sumbernya, pemilahan sampah secara konsisten, dan pengembangan ekonomi sirkular agar sampah memiliki nilai ekonomi.
"Sampahmu adalah tanggung jawabmu. Perubahan perilaku masyarakat menjadi fondasi utama dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan," ujarnya.
Menurut dia, Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai inovasi teknologi pengelolaan sampah.
Tantangan terbesar saat ini adalah penerapan teknologi tersebut secara luas yang didukung perubahan perilaku masyarakat.
Peran AI dan Teknologi Digital
Para narasumber menilai penyelesaian krisis lingkungan memerlukan pendekatan yang menyeluruh.
Pengelolaan sumber daya alam, perlindungan keanekaragaman hayati, mitigasi perubahan iklim, penyelesaian konflik agraria, hingga pengelolaan sampah tidak dapat ditangani secara terpisah.
Dalam konteks tersebut, teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) dinilai dapat membantu memperkuat pemantauan lingkungan dan mendukung pengambilan kebijakan berbasis data.