“Dia tidak pernah menafkahi, tapi menuntut semua uang hasil kerja saya dan tabungan anak-anak,” ungkapnya.
Teror psikologis, menurut Jessica, terus berlanjut hingga Januari 2025. Ia mengaku profesinya difitnah dengan tudingan malpraktik, sementara asisten pribadinya dilaporkan ke polisi dengan tuduhan pencurian yang disebut tidak berdasar.
Baca Juga: Buni Amin Soroti Kayu Raksasa di Aceh Tamiang, Bukti Dahsyatnya Banjir Bandang
Merasa kelelahan secara mental dan hukum, Jessica akhirnya membuka suara ke publik demi melindungi dirinya dan anak-anaknya.
“Saya sangat lelah dengan teror yang terus dilakukan, tapi saya harus kuat karena anak-anak saya adalah napas kehidupan saya,” pungkasnya.***