daily-vibes

Terpaksa Pakai Baju Perempuan, Korban Pria Ungkap Ironi Penanganan Bencana

Kamis, 11 Desember 2025 | 10:42 WIB
Foto: seorang pengungsi bencana di Sumatera yang terpaksa mengenakan pakaian wanita. (Dok. X/CakD3pp)

PONTIANAKGLOBE.COM, MEDAN -- Di tengah suasana pemulihan pascabencana di Sumatera, muncul sebuah kisah yang menampar rasa kemanusiaan. Kekurangan pakaian layak pakai membuat sebagian penyintas terpaksa mengenakan pakaian yang tidak sesuai kebutuhan, termasuk para korban pria yang harus memakai pakaian wanita karena keterbatasan logistik.

Momen itu terekam dalam unggahan akun X @CakD3pp pada Selasa, 9 Desember 2025. Dalam video yang dibagikannya, tampak beberapa korban bencana berusaha mempertahankan senyum meski kondisi serba darurat membuat mereka menerima apa pun yang tersedia.

"Sebagian sudah bisa tersenyum, tapi pakaiannya banyak untuk perempuan katanya mas ini," tulisnya.

Baca Juga: Tito Copot Sementara Bupati Aceh Selatan: Ketahuan ke Luar Negeri Tanpa Izin

Unggahan tersebut memperlihatkan seorang pria yang terpaksa mengenakan pakaian wanita karena tidak adanya stok baju laki-laki. Dengan nada yang mencoba tetap ringan, ia menyampaikan kondisi sebenarnya di lapangan.

"Bang, untuk bajunya kami terima kasih," ucapnya, sebelum melanjutkan dengan suara yang menyiratkan kebutuhan mendesak, "Tapi yang kami butuhkan bang sebenarnya baju laki-laki."

Menurut penjelasan akun tersebut, bantuan pakaian yang masuk dalam beberapa hari terakhir sebagian besar merupakan pakaian perempuan, sementara korban pria juga banyak yang kehilangan seluruh harta bendanya.

"Enggak ada baju laki-laki, ini baju perempuan semua ini bang," kata penyintas itu sambil memperlihatkan pakaian yang ia kenakan.

Baca Juga: Belum Pulih dari Banjir, Sumut Diprediksi Kembali Diguyur Hujan Ekstrem

Meski begitu, ia tetap menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang sudah datang, walau jelas kebutuhan para korban belum terpenuhi sepenuhnya.

"Untuk bajunya terima kasih bang, ya," tuturnya sambil mempertahankan senyum yang menyembunyikan ironi dan kesedihan.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa distribusi logistik pascabencana tidak hanya soal jumlah, tetapi juga kesesuaian kebutuhan para penyintas.***

Tags

Terkini