Tahun lalu, harga beras eceran masih di kisaran Rp14.643/kg dengan inflasi tahunan 3,08 persen, sementara harga grosir sekitar Rp13.563/kg dan penggilingan Rp12.724/kg.
Baca Juga: Panen Raya di Indramayu, Presiden Pastikan Produksi Padi Baik
Kini, situasinya berbalik: harga turun di semua level secara bersamaan dan tekanan inflasi berhasil ditekan.
Selain beras, bawang merah, cabai rawit, dan tomat juga berkontribusi pada penurunan inflasi Oktober 2025.
Namun, beras tetap menjadi faktor utama, mengingat bobotnya yang besar dalam pengeluaran rumah tangga.
Tak heran, deflasi beras dua bulan berturut-turut menjadi sinyal positif bagi daya beli masyarakat menjelang akhir tahun.
Menanggapi kondisi ini, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama lintas sektor.
“Tujuan kita menurunkan harga supaya masyarakat bahagia, dan itu sudah tercapai,” ujarnya.
Dalam kapasitas gandanya, Amran memimpin langsung pembentukan Tim Pengawal Harga yang terdiri dari Kementan, Bapanas, Bulog, serta aparat penegak hukum.
Baca Juga: Kalbar Target Produksi Padi 1,10 Juta Ton Sepanjang 2023
Tim ini bertugas menjaga stabilitas harga hingga tingkat kabupaten melalui operasi pasar dan penyaluran beras SPHP ke wilayah pegunungan yang bukan sentra produksi.
Menurut Amran, perbandingan antara 2024 dan 2025 mencerminkan perubahan struktural yang kuat di sektor pangan — pasar lebih terkendali, pasokan lebih stabil, dan kebijakan pemerintah semakin cepat berdampak.
“Keberhasilan ini adalah hasil kerja kolektif seluruh elemen bangsa — dari Presiden, petani, hingga media yang terus mengawal kebijakan pangan nasional,” pungkasnya.
Dengan harga beras yang turun di semua segmen dan deflasi dua bulan berturut-turut, Indonesia menutup Oktober 2025 dengan sinyal positif bagi stabilitas pangan dan daya beli masyarakat. ***