Gus Miftah meminta pihak yang mengklaim mendapat “restu Istana” untuk maju sebagai calon pemimpin NU menghentikan tindakan tersebut.
Menurutnya, klaim semacam itu bukan hanya tidak etis, tetapi juga berpotensi mengganggu suasana Muktamar dan merusak kehormatan para kiai serta Presiden.
“Klaim semacam itu bukan hanya kurang etis, tetapi juga bisa mengganggu akal sehat umat dan marwah para kiai dan juga menodai marwah serta kehormatan Presiden,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pihak-pihak yang menyebarkan isu intervensi Istana agar tidak memperkeruh suasana Muktamar.
“Jangan mengkerdilkan forum suci para ulama ini menjadi sekadar arena perebutan pengaruh politik praktis,” sambungnya.
Gus Miftah bahkan menyinggung figur yang disebut-sebut mendapat dukungan Istana untuk memimpin NU. Menurutnya, calon pemimpin NU harus memiliki kapasitas dan rekam jejak yang memadai.
“Apalagi jika figur yang dijajakan itu, mohon maaf, jauh dari harapan umat. Dinilai kurang kapasitas dan tidak mempunyai rekam jejak yang memadai dalam menahkodai ormas terbesar di dunia ini. Jangankan menyatukan umat, memimpin kelompoknya sendiri dari godaan ambisi saja belum bisa dinyatakan lulus,” ujarnya.
Ingatkan Kekuasaan di NU Merupakan Amanah
Gus Miftah kemudian mengingatkan tradisi pesantren melalui pesan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari dalam kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim.
Ia mengutip ungkapan, “Man thalaba al-riyasata fadhahahu Allahu,” yang bermakna bahwa orang yang ambisius mengejar jabatan kepemimpinan akan dihinakan oleh Allah.
“Kekuasaan di NU itu bukan untuk direbut (dithalab), melainkan sebuah amanah berat yang digotong bersama atas dasar khidmah (pengabdian). Ketika seseorang belum mumpuni secara kapasitas, namun memaksakan diri maju dengan cara menunggangi klaim ‘restu Istana,’ ia sebenarnya sedang meruntuhkan wibawanya sendiri di hadapan para kiai sepuh,” lanjutnya.
Ia berharap Muktamar ke-35 NU di Tambakberas dapat berlangsung dengan suasana yang bermartabat dan bebas dari transaksi politik.
“Muktamar di Tambakberas harus menjadi panggung yang gembira, bersih dari transaksional, dan bermartabat. Biarlah para kiai sepuh di jajaran Syuriyah dan para muktamirin yang membawa mandat akar rumput yang menimbang dan memutuskan dengan nurani jernih,” katanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji itu menegaskan bahwa pernyataannya disampaikan karena kecintaannya terhadap NU dan bukan sebagai bagian dari tim sukses kandidat mana pun.
“Saya sebagai orang yang mencintai NU dan bukan bagian dari timses manapun, hanya ingin NU menjadi lebih baik ke depannya. Semata karena tantangan besar kini berada di depan mata nahdliyin,” tuturnya.
Artikel Terkait
Dugaan Penipuan CPNS Libatkan Oknum Militer di Jatim, Kerugian Disebut Capai Rp20 Miliar
Pengendara Motor Rusak Palang Perlintasan Kereta di Sleman, Polisi Amankan Terduga Pelaku
Liburan Jessica Mila di Pulau Padar Disorot, Warganet Pertanyakan Izin Pelayaran
MR.D.I.Y. Indonesia Umumkan Pemenang Art Competition 2026, Indonesia Jadi Tuan Rumah Kompetisi Regional
Dua Pekerja Proyek Tertimpa Beton Drainase di Jatinegara, Evakuasi Berlangsung 3 Jam
Bupati Lampung Selatan Terjebak Jalan Rusak, Warga Minta Akses Segera Diperbaiki