Dugaan Penipuan CPNS Libatkan Oknum Militer di Jatim, Kerugian Disebut Capai Rp20 Miliar

photo author
Patrisia Yosi, Pontianak Globe
- Senin, 10 Agustus 2026 | 07:30 WIB
Foto Ilustrasi - Kasus penipuan modus penerimaan CPNS di Jawa Timur hingga menimbulkan dugaan kerugian hingga Rp20 miliar. (Instagram.com/@bpsdmjatim)
Foto Ilustrasi - Kasus penipuan modus penerimaan CPNS di Jawa Timur hingga menimbulkan dugaan kerugian hingga Rp20 miliar. (Instagram.com/@bpsdmjatim)

Korban Sempat Ikuti Tes Fisik dan Kesehatan

Ketut menjelaskan, para korban sempat mengikuti sejumlah tahapan tes, mulai dari tes akademik, fisik, psikologi, hingga kesehatan.

Rangkaian tes tersebut diduga dibuat sedemikian rupa agar terlihat seperti proses resmi yang diselenggarakan lembaga negara.

Para korban juga disebut menerima surat keputusan (SK) dan jadwal tes yang menggunakan kop surat resmi lembaga negara dari OP.

Namun, setelah dilakukan pengecekan kepada instansi terkait, dokumen-dokumen tersebut diketahui diduga palsu.

"Para korban juga sudah mengecek dari instansi-instansi terkait, ternyata SK dan juga jadwal yang dikeluarkan itu tidak benar, adalah palsu," kata Ketut.

"Surat-surat yang dikeluarkan juga palsu semua. Ada kop surat resmi, ada SK penunjukan, tapi palsu semua," imbuhnya.

Setelah mengikuti serangkaian tahapan 'seleksi susulan', para korban pada akhirnya tidak kunjung diterima di instansi yang dijanjikan.

Ketut mengatakan, pada tahap awal terdapat lima korban yang membuat laporan dengan total kerugian mencapai sekitar Rp3,5 miliar.

Namun, menurut dia, jumlah korban dan nilai kerugian diduga jauh lebih besar jika menghitung korban di luar kelompok tersebut, termasuk dari luar Jawa Timur.

"Sudah mencapai kerugian Rp20 miliar lebih, karena korbannya sudah diduga jelas lebih dari 10 orang," ungkapnya.

Ketut juga mengungkapkan adanya dugaan intimidasi terhadap sejumlah korban yang hendak melaporkan kasus tersebut kepada polisi.

Menurut dia, korban sempat diancam bahwa uang yang telah diserahkan akan hangus apabila kasus tersebut dilaporkan kepada kepolisian.

"Teman dari instansi yang lain juga mengatakan dan mengancam para korban bahwa justru para korbanlah yang salah, karena korban itu telah melakukan tindak pidana penyuapan," ucapnya.

Saat ditanya mengenai asal instansi oknum militer yang disebut menjadi perantara OP, Ketut belum bersedia mengungkapkannya secara rinci.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Patrisia Yosi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X