Nanik menggambarkan besarnya tanggung jawab tersebut seperti berdiri di bibir jurang.
"Menjaga uang besar agar tersalurkan dengan benar seperti berdiri di tebing jurang yang curam. Meleng sedikit bisa terjerembab," ungkapnya.
Karena kekhawatiran tersebut, Nanik mengaku tidak pernah menandatangani dokumen terkait anggaran seorang diri.
Ia selalu meminta dua wakil kepala BGN untuk ikut memberikan paraf sebelum dirinya membubuhkan tanda tangan.
"Saking takutnya saya memegang anggaran besar, sampai tanda tangan apa pun saya tidak mau sendiri," kata Nanik.
"Harus dua wakil kepala ikut paraf, baru saya mau tanda tangan," sambungnya.
Ia juga mengaku berulang kali meminta penjelasan terhadap setiap dokumen sebelum mengambil keputusan.
"Bahkan kalau sekretaris pribadi membawa tumpukan dokumen saya sudah parno duluan dan badan panas dingin, akibatnya saya ambruk," tuturnya.
Selain tekanan pekerjaan, Nanik juga mengaku mengalami teror yang membuatnya memutuskan mengganti nomor telepon pribadinya.
Menurutnya, keputusan tersebut justru membantu memperbaiki kondisi kesehatannya.
"Capai diteror kanan-kiri dan membuang nomor HP ternyata 50 persen dari obat jantung saya," ungkapnya.
Di akhir unggahannya, Nanik menggambarkan pengunduran dirinya sebagai bentuk menyerah demi memulihkan kesehatan.
"Angkat bendera putih, deh," tandasnya. ***
Artikel Terkait
Kedubes AS Dukung Peluncuran 'Koleksi Jakarta' Platform Digital untuk Akses Ribuan Koleksi Museum
Keluarga Korban Dugaan Pembakaran Santri Batal Berangkat ke Jakarta untuk Podcast Denny Sumargo
Tim gabungan Polri dan Polda Metro Jaya menggelar penggeledahan besar-besaran di sejumlah lokasi di Bogor dan Jakarta Selatan pada Rabu, 8 Juli 2026
Polisi Selidiki Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya Lay di Jakarta Pusat
Kampanye '1000 Hati' di CFD Jakarta Suarakan Hak Anak yang Terdampak Pemenjaraan Orang Tua
Seribu Hati Dibagikan di CFD Jakarta, Mengingatkan Publik pada Anak-anak yang Terdampak Pemenjaraan Orang Tua