Seribu Hati Dibagikan di CFD Jakarta, Mengingatkan Publik pada Anak-anak yang Terdampak Pemenjaraan Orang Tua

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Kamis, 23 Juli 2026 | 17:51 WIB
Relawan Yayasan Rumah Lam Horas bersama Lam Horas Film membagikan flyer berbentuk hati kepada pengunjung Car Free Day (CFD) di kawasan FX Sudirman dan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, dalam kampanye '1000 Hati untuk Anak-anak yang Terdampak Pemenjaraan Orang Tua' memperingati Hari Anak Nasional. (Dok. Yayasan Rumah Lam Horas)
Relawan Yayasan Rumah Lam Horas bersama Lam Horas Film membagikan flyer berbentuk hati kepada pengunjung Car Free Day (CFD) di kawasan FX Sudirman dan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, dalam kampanye '1000 Hati untuk Anak-anak yang Terdampak Pemenjaraan Orang Tua' memperingati Hari Anak Nasional. (Dok. Yayasan Rumah Lam Horas)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Di tengah ramainya aktivitas Car Free Day (CFD) Jakarta pada Juli 2026, selembar kertas berbentuk hati berpindah dari tangan para relawan kepada para pejalan kaki.

Bentuknya sederhana, namun pesan yang dibawanya mengajak masyarakat menoleh pada kelompok anak yang selama ini nyaris tak terlihat dalam ruang publik.

Baca Juga: Kampanye '1000 Hati' di CFD Jakarta Suarakan Hak Anak yang Terdampak Pemenjaraan Orang Tua

Dalam waktu kurang dari dua jam, 1.000 flyer berbentuk hati habis dibagikan.

Melalui kampanye bertajuk "1000 Hati untuk Anak-anak yang Terdampak Pemenjaraan Orang Tua", Yayasan Rumah Lam Horas bersama Lam Horas Film memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional 2026 untuk mengedukasi masyarakat mengenai anak-anak yang lahir dan dibesarkan di dalam penjara, serta mereka yang harus menjalani masa kecil ketika ayah atau ibunya sedang menjalani hukuman pidana.

Kampanye berlangsung di kawasan FX Sudirman dan Gelora Bung Karno (GBK) dengan melibatkan sembilan relawan.

Tidak sekadar membagikan flyer, para relawan juga mengajak masyarakat berbincang mengenai hak-hak anak yang sering kali terabaikan akibat stigma terhadap orang tua mereka.

Percakapan-percakapan singkat itu membuka mata banyak orang.

"Ada anak yang lahir di penjara?" tanya seorang pengunjung CFD dengan nada terkejut setelah mendengar penjelasan relawan.

Pertanyaan spontan tersebut menjadi gambaran bahwa masih banyak masyarakat yang belum mengetahui kenyataan tersebut.

Anak-anak yang Tidak Pernah Memilih Keadaannya

Di Indonesia, terdapat anak-anak yang mengawali kehidupan di dalam penjara karena ibu mereka sedang menjalani pidana.

Baca Juga: Wilmar Kalimantan Barat Perkenalkan Cantigi Coffee, Kopi Robusta Asal Pahauman, dalam Rakor Forum TSLP Landak 2026

Mereka bukan narapidana, melainkan anak-anak yang tetap berhak memperoleh kasih sayang, perlindungan, pendidikan, kesempatan bermain, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang secara optimal.

Di luar tembok penjara, ribuan anak lainnya juga menghadapi kenyataan berbeda. Mereka tumbuh tanpa kehadiran ayah atau ibu yang sedang menjalani hukuman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X