Kelola Anggaran Besar Jadi Beban Berat
Nanik mengaku tekanan terbesar berasal dari tanggung jawab mengelola anggaran negara dalam jumlah besar.
Menurutnya, kekhawatiran agar seluruh penggunaan anggaran tetap sesuai aturan membuat dirinya sangat berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan.
Ia bahkan mengaku tidak pernah menandatangani dokumen penting seorang diri. Seluruh dokumen, kata Nanik, selalu diparaf terlebih dahulu oleh dua wakil kepala setelah melalui proses pemeriksaan dan pendampingan.
"Saking takutnya saya memegang anggaran besar, sampai tanda tangan apa pun saya tidak mau sendiri, harus dua wakil kepala ikut paraf," ujar Nanik.
Tekanan pekerjaan yang terus berlangsung, menurut Nanik, akhirnya berdampak pada kondisi fisiknya.
Ia mengaku kerap merasa cemas ketika menghadapi tumpukan berkas pekerjaan hingga mengalami reaksi panas dingin.
Karena itu, Nanik memutuskan meminta izin kepada Presiden Prabowo untuk mengakhiri masa jabatannya agar dapat memprioritaskan pemulihan kesehatan.
"Saya sudah pamit kepada Presiden, jangan lama-lama saya di BGN karena saya mau konsen untuk kesehatan saya," ungkapnya.
Meski tak lagi memimpin BGN, Nanik mengatakan Presiden Prabowo tetap memintanya terlibat dalam pengawasan lembaga tersebut.
Ia menyebut pemerintah berencana membentuk dewan pengawas BGN dan dirinya kemungkinan akan dipercaya sebagai ketua.
Namun, Nanik menegaskan hanya bersedia menjalankan fungsi pengawasan tanpa terlibat dalam pengelolaan keuangan karena mengaku mengalami trauma.
"Kalau mencereweti kayaknya masih bisa, yang penting tidak berhubungan dengan pegang uang. Sumpah trauma akut," tandasnya. ***
Artikel Terkait
Kedubes AS Dukung Peluncuran 'Koleksi Jakarta' Platform Digital untuk Akses Ribuan Koleksi Museum
Keluarga Korban Dugaan Pembakaran Santri Batal Berangkat ke Jakarta untuk Podcast Denny Sumargo
Tim gabungan Polri dan Polda Metro Jaya menggelar penggeledahan besar-besaran di sejumlah lokasi di Bogor dan Jakarta Selatan pada Rabu, 8 Juli 2026
Polisi Selidiki Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya Lay di Jakarta Pusat
Kampanye '1000 Hati' di CFD Jakarta Suarakan Hak Anak yang Terdampak Pemenjaraan Orang Tua
Seribu Hati Dibagikan di CFD Jakarta, Mengingatkan Publik pada Anak-anak yang Terdampak Pemenjaraan Orang Tua