Aktivitas penambangan kobalt di Republik Demokratik Kongo mendapat sorotan internasional karena dikaitkan dengan dugaan eksploitasi tenaga kerja, termasuk pekerja anak, serta dampak terhadap lingkungan.
Meski demikian, sejumlah pakar menilai kondisi industri baterai telah mengalami perubahan.
Banyak produsen mobil listrik kini beralih menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang tidak lagi menggunakan kobalt sebagai bahan utama.
Chief Executive Officer Smart Energy Council Australia, David McElrea, mengatakan penggunaan kobalt tidak hanya terdapat pada baterai kendaraan listrik, tetapi juga digunakan dalam berbagai perangkat elektronik, seperti telepon pintar, tablet, dan laptop.
Menurutnya, tantangan utama bukan pada penggunaan kendaraan listrik, melainkan bagaimana memastikan rantai pasok mineral dikelola secara transparan, bertanggung jawab, dan menghormati hak asasi manusia.
Perkembangan teknologi baterai juga terus mengurangi ketergantungan terhadap mineral kritis.
Selain baterai LFP, sejumlah produsen mulai mengembangkan baterai berbasis natrium (sodium-ion battery) yang tidak memerlukan litium maupun kobalt.
Inovasi tersebut dinilai dapat memperluas pilihan bahan baku sekaligus mendukung industri kendaraan listrik yang lebih berkelanjutan.
Di sisi lain, IEA menyebut cadangan mineral penting yang telah diketahui saat ini masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik dalam jangka panjang.
Namun, lembaga itu mengingatkan bahwa dominasi produksi baterai di China tetap menjadi tantangan bagi ketahanan rantai pasok global.
Karena itu, IEA mendorong pengembangan industri daur ulang baterai agar pasokan mineral dapat dimanfaatkan kembali sekaligus mengurangi kebutuhan eksploitasi sumber daya alam.
Pakar Minta Perdebatan Dilihat Secara Objektif
Pakar keamanan energi dari University of Queensland, Vlado Vivoda, menilai berbagai kritik terhadap kendaraan listrik tidak sepenuhnya keliru karena persoalan pertambangan, dampak lingkungan, dan kondisi tenaga kerja memang masih menjadi tantangan.
Namun, ia mengingatkan bahwa membandingkan kendaraan listrik dengan sistem transportasi berbasis bahan bakar fosil harus dilakukan secara adil dan berdasarkan data.
Artikel Terkait
Mobil Listrik Kecil Chery Little Ant Meluncur, Menjadi Tantangan Bagi Wuling Air EV
Hyundai Motors Rilis Mobil Listrik Terjangkau, Meramaikan Pasar Otomotif Indonesia
Persaingan Meningkat! Chery Little Ant, Mobil Listrik dengan Harga Terjangkau Mulai dari Rp160 Juta
Wuling BinguoEV: Inovasi Mobil Listrik dengan Berbagai Keunggulan
Inilah Wujud Mobil Listrik Xiaomi SU7, Simak Keunggulannya Sebelum Kamu Memutuskan Membeli
Omoda E5, Mobil Listrik Chery, Raih 500 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) dengan Teknologi Canggih Baterai