Oleh: Samuel | Staf Komisi Komsos Keuskupan Agung Pontianak
PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK - Satu buku yang mengulas tentang keseharian Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, kembali diluncurkan.
Peluncuran dilakukan di Pontianak bebeapa waktu lalu. Sejumlah pihak hadir, baik para tokoh lintas agama, tokoh pemerintahan maupun tokoh politik dan tokoh masyarakat dan pemuda.
Sang penulis buku, Samuel mengisahkan bagaimana ia berhubungan dengan Mgr Agustinus Agus dalam kesehariannya. Berikut penuturannya:
Sepengamatan saya sebagai wartawan dari Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak, kurang lebih 6 tahun ikut dalam setiap kunjungannya baik ke pedalaman maupun bertemu tokoh-tokoh penting, Uskup Agustinus adalah seorang pemimpin yang persuasif.
Model kepemimpinan Uskup Agustinus yang persuasif ini terlihat jelas dari komunikasi yang sederhana, dan pengaruhnya dalam menjalin persahabatan dengan siapapun, seolah tak ada sekat-sekat antara tokoh agama, umat dan tokoh masyarakat. Adapun model kepemimpinan unik Uskup Agustinus lainnya adalah kekuatan beliau mempengaruhi dan mengarahkan orang dengan cara kepercayaan, hormat, dan kerjasama yang bersemangat dalam mencapai tujuan bersama.
Dengan sikap komunikasi yang persuasif yang menggerakkan ini, orang-orang bersedia mengikuti kehendak Bapa Uskup dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati sehingga tidak heran Bapa Uskup memiliki banyak saudara-saudara baik dalam kalangan Katolik, pemerintahan maupun non-Katolik.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa selalu menghadirkan sebuah nilai. Nilai-nilai yang muncul pada peristiwa tak terduga kemudian nilai itu sungguh menjadi sebuah cerita yang hendak 'diramu' menjadi kualitas dari 'kata' yang menjadi sumber inspirasi. "Cerita yang ada bukanlah sekedar cerita yang ocehkan, oleh karenanya sebuah kata yang menunjukkan simbol hidup yang memiliki kekuatan tak terbatas" - bukan sekedar diceritakan, bukan juga sekedar tercatatkan, sebab semua beriringan dengan dinamisnya waktu berjalan.
Perjalanan-perjalanan turne Uskup dari Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus mengajarkan sebuah hal, yakni untuk teguh dan kuat dalam menyerna setiap momentum yang terjadi. Sebagaimana yang selalu Uskup Agustinus sampaikan dalam setiap kunjungannya, "Saya datang ke kampung bukan untuk tidur, tetapi untuk menghibur umat ku," kata Uskup Agustinus dalam setiap kesempatan kunjungannya.
Kata-kata yang seolah menjadi 'legenda' itu, seolah mau mengajarkan kita untuk keluar dari rasa lelah dengan maksud untuk melihat secara luas tujuan dari kehadiran setiap kunjungan. Tak terasa waktu berjalan begitu 'melesat' hingga saya lupa sudah ribuan kata yang sebenarnya masih belum sempat tertulis di buku ini.
Buku ini merupakan cuplikan mutiara kata dari momen-momen 'lelah', dari peristiwa yang ruwet bahkan kejadian klimaks tak terduga saat Uskup Agustinus berbincang dengan umat ditemani dengan gelas beer ataupun 'tuak'. Kondisi yang bersahabat selalu mengubah paradigma baru, entah itu bagi umat maupun masyarakat yang mendengarnya.
Bagi Penerbit jelas dalam hal ini bahwa Uskup Agustinus adalah Uskup 'komunikator ulung',- hal itu tampak dan selalu jelas terlihat saat Bapa Uskup berbicara pada lawan bicaranya dengan pengarahan yang jelas tanpa ada paksaan ataupun tekanan. Di sisi lain, pengalaman hidup pastoralnya membuat komunikasinya melampaui komunikasi yang terbatas sekedar 'kata'. Uskup Agustinus mampu melihat indikasi 'poin' dalam setiap situasi genting, ataupun peristiwa yang 'sengaja' pihak lain buat untuk 'menjatuhkannya'.
Tetapi, yang hebat dari cara pandangnya yakni selalu bicara hal yang substansial artinya cara pikirnya mampu merombak paradigma setiap orang yang ada disekitarnya. Bapa Uskup tidak langsung mengambil keputusan dalam keadaan panik, bahkan tidak jarang orang-orang politikus saat duduk bersama Bapa Uskup dengan niat memancing pembicaraan dengan tujuan tertentu, mampu terbaca olehnya (Uskup Agustinus) meskipun cara bicara orang itu halus dan santun. Ketajaman analisa yang membongkar kemunafikan satu persatu dibuka oleh Uskup Agustinus dengan gaya pastoral yang 'nyentrik'. Bahkan saat-saat berpesta-pun kalau bisa, Bapa Uskup yang paling terakhir istirahat dan bangun paling awal dari yang lain.
Mutiara kata yang sering Bapa Uskup lontarkan bukan sekedar kata saja, tapi kata yang muncul karena pengalaman dan perbuatannya sendiri. Mutiara kata yang lontarkan justru saat-saat orang putus asa, marah, bahkan tertekan karena keadaan.