bizbuzz

Cadangan Mineral Besar, Indonesia Dinilai Belum Maksimal

Jumat, 13 Februari 2026 | 07:49 WIB
Wakil Direktur Utama (Wadirut) Mining Industry Indonesia (MIND ID), Dany Amrul Ichdan ungkap potensi pertumbuhan ekonomi RI sebesar 8 persen. (Dok. Ist)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Wakil Direktur Utama Mining Industry Indonesia (MIND ID), Dany Amrul Ichdan, menilai Indonesia harus keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan mulai mengejar pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.

Menurut Dany, berbagai keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia perlu dioptimalkan agar mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Baca Juga: Ketajaman Akal dan Ketergantungan Alat

Hal tersebut disampaikannya dalam acara Studium Generale bertema Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas di Aula Barat ITB Bandung, Rabu (11/2/2026). Acara tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar dan Rektor ITB Tatacipta Dirgantara.

Dalam paparannya, Dany menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia selama bertahun-tahun cenderung stagnan di kisaran 5 persen karena struktur ekonomi yang masih bertumpu pada komoditas mentah dengan nilai tambah terbatas.

"Selama lebih dari satu dekade, ekonomi Indonesia seolah nyaman di angka 5 persen. Padahal, dengan modal yang kita miliki, Indonesia seharusnya mampu melompat ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi," ujarnya.

Gagasan tersebut juga ia tuangkan dalam bukunya berjudul Indonesia Naik Kelas yang diluncurkan pada akhir 2025.

Cadangan Mineral Jadi Peluang Strategis

Dany menegaskan Indonesia memiliki keunggulan besar dari sisi sumber daya alam. Cadangan mineral strategis Indonesia, seperti timah, nikel, emas, bauksit, dan batu bara, termasuk yang terbesar di dunia dengan usia cadangan mencapai puluhan tahun.

“Indonesia sesungguhnya memiliki keunggulan. Cadangan mineral strategis kita menempati peringkat teratas dunia,” katanya.

Namun, ia menilai potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Kontribusi penerimaan pajak dan royalti terhadap PDB masih berada di kisaran 9–10 persen, jauh di bawah negara maju yang bisa mencapai 30–40 persen.

Menurutnya, kondisi ini mencerminkan masih dominannya ekspor bahan mentah dan belum maksimalnya hilirisasi industri.

"Angka penerimaan negara yang rendah menunjukkan bahwa kita masih menjual bahan mentah. Nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar negeri," ujar Dany.

Selain cadangan mineral primer, Dany juga menyoroti potensi secondary resources dan limbah industri tambang yang dapat dimonetisasi untuk memperpanjang umur ekonomi sumber daya alam.

“Bukan hanya tambang, potensi juga ada di industri lain seperti perikanan dan sektor lainnya yang belum dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.

Halaman:

Tags

Terkini