Bukan Menteri, Tapi Paling Disorot: Fenomena Politik Teddy Mencuat”

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Senin, 17 November 2025 | 21:13 WIB
Sekretaris Kabinet (Seskab) RI, Teddy Indra Wijaya meninjau Sekolah Rakyat Menengah Atas 33 di Tangerang Selatan. (Dok. Setkab RI)
Sekretaris Kabinet (Seskab) RI, Teddy Indra Wijaya meninjau Sekolah Rakyat Menengah Atas 33 di Tangerang Selatan. (Dok. Setkab RI)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya semakin menjadi perhatian publik berkat gaya kepemimpinan yang kerap turun langsung menemui warga. Pengamat politik Amsori Baharudin Syah menyebut pendekatan tersebut sebagai bentuk empathetic governance, yaitu kepemimpinan publik yang mengutamakan kedekatan emosional dan kehadiran nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjalankan fungsi struktural.

Amsori menilai Teddy menunjukkan upaya serius dalam mendekatkan pemerintahan kepada masyarakat.

“Apa yang dilakukan Teddy Indra Wijaya adalah bentuk dari pelayanan publik. Ia hadir bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai manusia yang mau mendengar,” kata Amsori, Sabtu (15/11/2025). 

Baca Juga: Skandal Kuota Haji Rp1 Triliun: Jejak Aliran Dana Mulai Terungkap

Ia menambahkan, interaksi Teddy dengan warga bukan sekadar sapaan seremonial.

"Teddy tidak hanya menyapa, tetapi mendengarkan aspirasi, keluhan, dan kebutuhan warganya," ujarnya.

Menurutnya, tindakan tersebut mencerminkan kepemimpinan yang aktif dan tulus.

Amsori melihat gaya kepemimpinan Teddy sebagai praktik birokrasi yang humanis. Ketika pejabat negara turun ke lingkungan masyarakat, mereka bukan semata-mata mempertontonkan kehadiran, tetapi menjadi bagian dari proses penyelesaian masalah.

“Ini bukan sekadar turun ke lapangan. Ini cara memanusiakan warga,” katanya.

Ia menilai pendekatan seperti ini lebih efektif karena pejabat bisa memahami persoalan secara langsung tanpa hanya mengandalkan laporan tertulis.

Bagi Amsori, strategi tersebut juga memperkuat legitimasi pemerintah. Survei Indikator Politik menunjukkan tingkat pengenalan publik terhadap Teddy telah melewati angka 50 persen. Menurut Amsori, capaian itu lahir dari konsistensi dan kehadiran empatik.

“Kuncinya bukan pencitraan. Ini soal hadir dengan hati,” ungkapnya.

Ia menilai figur Teddy mencerminkan birokrat generasi baru yang tidak menjaga jarak, tetapi rendah hati, efisien, dan dekat dengan warga.

“Yang membuat publik menerima Teddy adalah sikap rendah hati, bukan wibawa yang dibuat-buat,” tambahnya.

Sementara itu, Founder dan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi menyebut popularitas tinggi Teddy sebagai fenomena menarik. Ia menyampaikan bahwa posisi Seskab umumnya tidak memiliki sorotan sebesar kementerian teknis atau kementerian koordinator. Pernyataan itu ia sampaikan dalam rilis survei bertajuk ‘Evaluasi Publik Atas Kinerja Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran’, Sabtu (8/11/2025). 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X