techno

Begini Cara Menghindari Deepfake seperti Kasus 'Jokowi' Berbicara Bahasa Mandarin

Senin, 13 November 2023 | 12:40 WIB
Teknologi deepfake dinilai sangat berbahaya, namun publik dihimbau untuk tidak paranoid (ilustrasi/ Markus Spiske/Unsplash.com)

Istilah "deepfake" sendiri merujuk pada teknologi yang menggunakan algoritma pembelajaran mendalam untuk membuat konten palsu dari orang sungguhan, dengan memanfaatkan gambar-gambar dalam jumlah besar.

Pada bulan Juli, sejumlah perusahaan teknologi pengembang AI, termasuk OpenAI, Alphabet (Google), Meta, Amazon, dan Microsoft, berkomitmen secara sukarela untuk menerapkan tanda air atau watermark pada konten yang dihasilkan oleh AI.

Baca Juga: Shayne Pattynama Pemain Timnas Indonesia Main Penuh, Viking Unggul Atas Sarpsborg di Liga Norwegia

"Komitmen ini merupakan langkah yang menjanjikan, namun masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan bersama," kata Presiden AS Joe Biden, dikutip dari Reuters.

Panji Wasmana, National Technology Officer Microsoft Indonesia, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mulai menerapkan tanda air tersebut secara bertahap pada platform AI mereka.

Wasmana menjelaskan bahwa penerapan watermark dapat bersifat eksplisit pada gambar dan juga mencakup penanaman informasi metadata (data dasar pada file terkait).

Baca Juga: Atletico Madrid Berhasil Menang 3-1 Atas Villarreal, Kini Mendekati Posisi Barcelona

"Ke depannya, kami sedang mencoba mengembangkan algoritme yang disebut security emerging, jadi selain filenya itu kelihatannya normal, tapi di dalamnya ada metadata yang kita tambahkan untuk menyatakan bahwa konten ini dihasilkan oleh AI," tuturnya.

Menanggapi hal ini, Panji menambahkan bahwa meskipun watermark dihapus, metadata tetap ada, sehingga memberikan penanganan yang lebih baik.

Selain itu, Microsoft berencana untuk menerapkan tanda serupa pada konten audio dan video.

"Signature-nya yang berikutnya nanti di audio juga sama. Kita akan menambahkan filler lagi setiap audio yang dihasilkan maupun video yang dihasilkan. Strateginya sama," jelas Panji.

Disebutkan, pada tahap ini, prosesnya masih berlangsung, karena penambahan metadata harus mempertimbangkan standar baku dari setiap pemirsa atau pihak vendor yang memanfaatkan teknologi tersebut. ***

Halaman:

Tags

Terkini