Sang Dokter (4): Hari Kartini

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Rabu, 14 Desember 2022 | 06:05 WIB
Foto ilustrasi,  Pulau terluar di Riau. (f: riau.go.id)
Foto ilustrasi, Pulau terluar di Riau. (f: riau.go.id)

Bu Camat berdiri dan bertepuk tangan, memberi apresiasi, diikuti semua yang hadir.

Sore hari, saya kembali duduk-duduk di bebatuan sekeliling sumber air di lereng bukit belakang rumah. Semburat cahaya kemerahan di balik bukit memberi isyarat yang menguatkan pilihanku. Aku bisa memberi dengan melimpah kepada mereka. Bukan harta tetapi hati.

Mereka semua adalah orang tua dan saudaraku. Mereka semua keluargaku. Sakit yang mereka rasakan juga kurasakan. Kegembiraan yang mereka alami juga turut kualami.

Tuhan telah memiliki rencana yang paling baik untuk setiap ciptaan-Nya. Aku tidak perlu risau. Ku jalani seperti air mengalir. Tidak ada yang dapat menghalangi. Air terus mengalir ke arak Samudera-Nya. Semua bergerak mengarah kepada-Nya

Mars apel senja terompet ‘tonggeret’-Cicadoidea- dari pucuk-pucuk nyiur mengangkasa, bergulungan dengan mega-mega putih menyebar ke seluruh batas langit, menutup siang membuka malam. Layar plasma langit pun hilang ditelannya.

Pakem Tegal, Yogya, 27-4-2020

* Oleh: Leo Sutrisno
Penulis Cerpen ini adalah pensiunan dosen di FKIP Untan. Menyelesaikan program doktor di Monash University, Australia. Penerima Colombo Plant Scholarship.

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X