“Jangan khawatir, Ibu akan baik-baik saja. Carilah ilmu setinggi-tingginya. Agar kelak dapat berguna bagi orang banyak!” Kata ibu
Itu merupakan titik awal perjalanan hidupku. Berkat doa kedua orang tua serta adik-adik, dan tentu saja, bantuan para orang baik lagi dermawan, studiku lancar hingga lulus sebagai dokter umum.
Lepas menjalani PTT dan ditambah dua tahun atas kemauan sendiri, aku dipanggil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
Atas biaya Pemda aku diminta mengikuti program dokter spesialis paru. Memang, di kepualauan sana masih banyak penderita TBC dan sejenisnya.
Aku kembali ke kehidupan kampus seperti dulu.
Tetap naik sepeda.
Menyewa kamar sederhana.
Tiap Sabtu sore pulang ke desa.
Bercengkerama dengan ibu di dapur.
Tidur sebalai dengan adik-adik di malam Minggu.
Minggu pagi pergi melihat sawah menemani bapak mengontrol pematang dari lobang yuyu.
Minggu sore kembali ke kota.
Tas ransel tergantung di boncengan berisi beras dan sayur yang selalu disiapkan ibu.
Awal Desember tahun lalu, aku kembali ke daerah.
Untuk sementara, aku dititipkan di RSUD sebelum dikirim ke kabupaten.
Artikel Terkait
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian 12): Konsili Vatikan II Mengajak Orang Katolik Melakukan Pembaruan
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-10): Apakah Anda Sudah Diselamatkan?
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-11): Apakah Anda Percaya Infalibitas Paus?