ragam

Sang Dokter (5): Nek A Chi

Jumat, 23 Desember 2022 | 16:11 WIB
Ilustrasi laut, cerita rakyat NTT, legenda Ol Oh di Sikka. (Quotev)

“Amin!”  Sambutku. Tidak lama kemudian Layar Plasma  langit  lenyap. Ada seekor burung elang terbang memotong  rombongan burung Mliwis yang terbang menuju pebukitan.

Saat ini, aku kembali duduk di lereng bukit bebatuan di bibir sumber  air belakang rumah. Menanti semburat merah jingga di batas cakrawala.

Dalam kebeningan air sumber yang keil ini aku melihat bayang-bayang senyum Nenek Chi ke arahku.  Sepintas terlihat ada dua batu nisan di belakang lanting dengan tulisan ‘Tuan dan Nyonya Chi Chung Hua’. Galur-galur tanaman sayur berubah menjadi taman bunga Peony, bunga kemakmuran. Tampak di taman itu seekor ayam jantan sedang mematuk-matuk wortel.

Ternyata, dalam hidup di alam fana sana tak lepas dari penderitaan. Di dalam kebahagiaan keluarga Chi yang ketiga anaknya hidup sukses di manca negara, ada Ranti yang hilang di telan alam.

Di dalam kebahagian yang kuterima pun demikian. Sukses hidupku tak dapat dirasakan lama.

Kebahagian ayah dan ibu menyaksikan anak-anaknya berhasil menapaki kehidupan dengan mulus dan lancar, ada aku yang meninggalkan mereka jauh lebih awal dari yang diharapkan. Tak ada orang lain yang mengantarkan jasadku sampai di liang lahat kecuali para petugas medis yang  rela merawat jenasah orang meninggal karena Covid-19.

Hidup adalah misteri. Tak ada kebahagian yang bebas dari penderitaan. Namun, justru di dalam penderitaan itu   muncul kemurahan hati, muncul kebahagiaan.

 

Pakem Tegal, Yogya. 29-4-2020

* Leo Sutrisno

Penulis Cerpen ini adalah pensiunan dosen di FKIP Untan. Menyelesaikan program doktor di Monash University, Australia. Penerima Colombo Plant Scholarship.

Halaman:

Tags

Terkini