Petak kebun sebelah kiri makam berisi empat galuran tanaman: seledri, bawang putih, bawang merah dan wortel. Suatu waktu A Pho Chi menjelaskan kepadaku,
Kulihat ke atas. Layar plasma langit membentang, Jejak-jejak ku di sekitar rumah Nenek Chi tertayang di san.
“Nenek menanam sayur itu, selain untuk dimakan juga mengandung harapan nenek. Seledri untuk Tami. Itu lambang kerajinan. Bawang putih lambang kemampuan hitung cepat buat Rejeki. Bawang merah untuk Tari lambang kecerdasan. Dan, wortel untuk Ranti. Wortel itu lambang nasib baik” Terdiam sejenak. Mata berkaca-kaca. Air mata menetes di pangkuan.
“Nenek sakitkah?” Tanyaku. “Ayo ke dalam. Saya periksa!”
Ia manggeleng. Lama kami berdiam diri.
Kemudian, “Aku inggat dia, Entah dimana dia sekarang. Andai, andai juga ada di sini, Ranti pasti senang. Kalian berdua seperti saudara kembar”. Jeda sejenak.
“Ranti sekolah SMA di kota. Waktu libur akhir tahun, ia pulang. Dokter tahu bulan Desember, musim ombak besar. Ia hilang bersama perahu yang ditumpangi. Setehun kemudian, A Kung meninggal menanggung sesal. Mengijinkan Ranti pulang Natal tidak saat libur Imlek.”
Sambil membawa selembar foto hitam putih, “Ini, si sulung. Nama indon-nya Sri Utami. Sekarang di Singapur. Adiknya, Sri Rejeki di Taiwan. Ini, nomor tiga, si bawang merah, Sri Utari. Ia di Kuching. Semua ikut suami masing-masing. Mereka hidup makmur. Dan, ini Ahui. Lupa! Aku, nama indon-nya. Miripkan dengan kau bukan?!”
“Sri Ranti, Nek!” aku menyela.
“Ya, ya. Kau bisa baca tulisan di foto itu, ya?” Aku mengangguk
“Tiap pagi aku berdoa bagi mereka satu per satu di depan galur-galur sayur itu. Namun, tiap sampai di galur Ahui, Ranti, aku terdiam”
Lanjutnya, “Jika Ahui, Ranti, memang sudah tiada, aku harap agar jiwanya sempat mengarungi empat lautan lebih dahulu. Di barat ada Danau Qinghai. Di timur ada Laut Cina Utara. Di utara ada danau Baikal. Dan, di selatan, di sini, ada Laut Cina Selatan”
“Saya turut berdoa baginya, Nek”. Kataku
“Kedatangan saya ke sini mengabarkan bahwa dana untuk operasi mata sudah didapatkan. Minggu depan kita turun ke kota, ya?!!” Aku diam menunggu jawabannya. Nenek Chi menggeleng.
“Dokter, aku berterima kasih atas usahamu mencarikan ini. Tetapi, aku sudah tua. Biarlah aku melanjutkan sisa hidupku ini dengan satu mata. Untuk silih bagi hidup Ahui, Ranti. Agar dapat nasib yang baik jika masih hidup. Pakailah dana tersebut untuk bantu meningkatkan kesehatan orang lain yang lebih memerlukan!”