ragam

Sang Dokter (3): Di Puskesmas PTT

Selasa, 13 Desember 2022 | 11:44 WIB
Ilustrasi Dokter (pixabay)

Jika senja tiba, aku biasa naik ke bukit batu di belakang rumah.

Di sana ada sebuah  sumber air kecil di antara bebatuan.

Dari sumber air ini, penduduk mengalirkannya ke rumahku.

Agar sambungan slangnya tidak lepas, air itu dibiarkan mengucur terus tiada henti.

Tumpahan airnya mengalir ke parit sebelah rumah.

Di bebatuan sekitar sumber  ini, aku sering menghabiskan senja sambil menunggu matahari tenggelam.

Airnya sangat bening, jernih.

Berkaca dari air yang bening, jernih, ini, aku dapat memasuki rasa hening.

Alam sungguh bermurah hati padaku, serta pada semua kehidupan di sini.

Bersama seluruh makhluk ciptaan-Nya, aku tinggal di sebuah ‘rumah’.

Di kepulauan terluar  dan terpencil ini, ternyata aku tidak sendirian.

Aku punya keluarga besar.

Di   ‘rumah’ ini, aku dapat merasakan sulur-sulur kasih-Nya,  Ia Yang Mahakuasa sekaligus Yang Mahakasih, Ia  Yang Mahatinggi, tetapi  juga sangat dekat sekali, bahkan selalu memelukku.

Akhirnya, aku merasa bahwa hidup ini adalah sebuah penjiarahan bersama untuk memuliakan-Nya.

Hanya dalam penyertaan-Nya, kita para musyafir dapat selalu mengayunkan langkah menuju ke suatu titik pengharapan, Titik Pusat Gravitasi Jagad Raya. ***

Halaman:

Tags

Terkini