ragam

Sang Dokter (2): Siapa Aku ?

Senin, 12 Desember 2022 | 09:06 WIB
Ilustrasi kampung proklim

Jika pergi ke barat, kau menuju ke daerah keluarga yang melahirkan ari-arimu.

Jika ke utara kau akan disambut oleh keluarga   yang melahirkan tali pusarmu.

Jika menetap di sini kau bersama aku, ibumu!, yang melahirkan dirimu.

Tentu juga di bawah asuhan bapak dan didampingi kedua adikmu ini”, kata ibu sambil merangkul kedua adik.

Di depan pintu pekarangan, kutengok sekali lagi rumah itu sambil berguman, “Akhirnya  saat itu tiba, aku, Wie, minta pamit bapak, ibu, adik Mie  dan adik Man.

Kutinggalkan kegembiraan dan keceriaanku di rumah ini, sebagai penghiburan bagi kalian semua”.

Pancaran cahaya Matahari telah condong ke barat setinggi pundak manusia.

Gerimis kecil membentangkan biang lala di kaki langit timur.

Belalainya menggulung kami berlima mengarungi mega-mega putih, menembus batas cakrawala.

‘Selamat tinggal kampung halamanku”.

 

Pakem Tegal, Yoogya. 22-4-2020

* Oleh: Leo Sutrisno

Penulis Cerpen ini adalah pensiunan dosen di FKIP Untan. Menyelesaikan program doktor di Monash University, Australia. Penerima Colombo Plant Scholarship.

Halaman:

Tags

Terkini