“Selamat datang, dok! Semoga kerasan di sini walau tidak banyak pasien TB” Kata teman sejawat menyambutku.
Syukurlah, akhir Januari yang lalu RSUD itu ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan provinsi dalam menangani wabah Covid-19.
Aku dimasukkan dalam anggota tim penanggulangan.
Aku mulai rutin setiap hari berhadapan dengan berbagai keluhan pasien, dari sekedar batuk hingga demam tinggi.
Tidak jarang harus menunggu hingga tengah malam pasien baru bisa didatangkan.
Mungkin, untuk menghindari para kuli tinta yang memang beritanya sedang ‘trendy’.
Karena pertambahan pasien dari hari ke hari semakin banyak maka selama bulan Maret lalu hampir tidak pernah pulang istirahat di mess.
Siang malam ‘standby’ di rumah sakit.
Awal bulan ini, April, aku terinfeksi.
Dan, langsung menjalani isolasi ketat.
Aku takut dan menangis.
Tetapi, bapak, ibu, serta adik-adik terus menyemangatiku lewat Whatsapp.
Dengan kendaraan khusus, tadi siang aku dibawa ke tempat ini.
Anggota tim yang mendampingiku menggunakan APD lengkap.
Dalam perjalanan sesekali aku menguping pembicaraan mereka.