"Saya melihat Mbah Yai dan Romo Fadjar memiliki semangat yang sama tentang persaudaraan sejati, bangsa, dan negara," ujarnya.
Dapur dan Meja Makan
Setelah hampir dua jam berbincang di ruang tamu, KH Suyuti mengajak para tamu menikmati santap malam bersama di ruang makan kecil dekat dapur rumah lamanya.
Bagi kalangan pesantren, ruang makan keluarga dan dapur memiliki makna tersendiri karena tidak semua tamu mendapat kesempatan masuk ke area tersebut.
"Kalau seseorang sudah dipersilakan masuk ke ruang pribadi dan diajak makan bersama di dekat dapur, itu artinya ia sudah dianggap lebih dari sekadar tamu. Ia adalah saudara," ujar Rm Fadjar.
Menurutnya, filosofi tersebut menjadi pelajaran penting dalam membangun moderasi beragama.
"Di pesantren, tamu biasa cukup diterima di ruang tamu atau teras. Karena itu saya menyimpulkan, dapur dan meja makan adalah kunci keberhasilan moderasi beragama," katanya.
Suasana persaudaraan semakin terasa saat santap malam berlangsung. Kedua tokoh tampak menikmati kebersamaan, saling bercanda, dan berbagi cerita dalam suasana penuh keakraban.
Perbincangan kemudian berlanjut di halaman depan masjid pondok pesantren hingga hampir satu jam. Pertemuan itu akhirnya ditutup dengan pelukan hangat sebelum Rm Fadjar berpamitan kembali ke Probolinggo.
Malam itu, moderasi beragama tidak lagi sekadar konsep atau slogan. Ia hadir nyata dalam bentuk persahabatan, silaturahmi, dan kebersamaan di meja makan. ***