Dapur dan Meja Makan, Simbol Moderasi Beragama di Banyuwangi

photo author
Patricia Yosi, Pontianak Globe
- Senin, 22 Juni 2026 | 11:08 WIB
Romo Damianus Fadjar Tedjo Soekarno berangkulan dan kemudian menggendong Ulama Kharismatik KH Fathulloh Suyuti Toha di Pondok Pesantren Mansyaul Huda, Banyuwangi, Minggu malam (14/6/2026). (Dok. Pontianak Globe)
Romo Damianus Fadjar Tedjo Soekarno berangkulan dan kemudian menggendong Ulama Kharismatik KH Fathulloh Suyuti Toha di Pondok Pesantren Mansyaul Huda, Banyuwangi, Minggu malam (14/6/2026). (Dok. Pontianak Globe)

PONTIANAKGLOBE.COM, BANYUWANGI -- Moderasi beragama tidak cukup berhenti pada teori, seminar, atau wacana. Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam praktik nyata kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui silaturahmi dan kebersamaan yang melampaui sekat perbedaan.

Pesan itu tergambar dalam pertemuan antara ulama kharismatik Banyuwangi, KH Fathulloh Suyuti Toha, pengasuh Pondok Pesantren Mansyaul Huda, dengan Pastor Paroki St. Paulus Kraksaan, Probolinggo, Rm Damianus Fadjar Tedjo Soekarno Pr, Minggu malam (14/6/2026).

Pertemuan yang berlangsung hangat di kediaman KH Suyuti itu menjadi simbol persaudaraan lintas agama yang telah terjalin selama lebih dari dua dekade.

Rm Fadjar datang bersama AM Putut Prabantoro, alumnus PPSA XXI Lemhannas RI sekaligus pengajar ideologi, didampingi Lambertus Widiantoro, Lucius Gora Kunjana, dan Samudra Hasni Shodiq. Sejumlah tokoh masyarakat dan pegiat kebangsaan Banyuwangi turut hadir dalam pertemuan tersebut.

Kunjungan ini merupakan balasan atas silaturahmi KH Suyuti bersama rombongan Majelis Dzikir Nurul Wathon ke kediaman Putut Prabantoro di Yogyakarta pada 30 Mei 2026.

Menurut KH Suyuti, pertemuan tersebut merupakan wujud nyata nilai ukhuwah atau persaudaraan yang selama ini diperjuangkan Majelis Nurul Wathon.

"Yang kami bangun adalah Ukhuwah Wathaniyah, persaudaraan sesama anak bangsa, dan Ukhuwah Basyariyah, persaudaraan kemanusiaan universal," ujarnya.

Persahabatan 25 Tahun

Meski dipisahkan jarak sekitar 195 kilometer antara Banyuwangi dan Kraksaan, hubungan persahabatan KH Suyuti dan Rm Fadjar telah berlangsung lebih dari 25 tahun.

Keduanya pertama kali bertemu ketika Rm Fadjar bertugas di Paroki St. Yohanes Penginjil Bondowoso pada awal tahun 2000-an. Pertemuan di Banyuwangi kali ini menjadi ajang reuni setelah sekitar satu dekade tidak berjumpa.

Suasana haru terlihat ketika Rm Fadjar yang mengenakan jubah putih langsung memeluk dan menggendong KH Suyuti yang kini berusia 85 tahun.

Tradisi itu bukan hal baru. Keduanya memang memiliki kebiasaan unik setiap kali bertemu, yakni Rm Fadjar yang lebih muda akan menggendong sang kiai sebagai simbol kedekatan dan rasa hormat.

"Siapa pun tamunya, besar ataupun kecil, Pak Yai selalu menerima dengan cara yang sama, duduk bersila tanpa sekat. Tradisi itu tidak pernah berubah," kata Rm Fadjar.

Ia mengenang masa-masa ketika sering berdiskusi hingga larut malam bersama KH Suyuti. Topik yang dibahas bukan soal perbedaan agama, melainkan persoalan bangsa, negara, dan spiritualitas dalam bingkai kebudayaan.

Sandi Suwardi Hasan, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, mengaku kagum dengan kedekatan kedua tokoh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Patricia Yosi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X