Pendekatan ini mendorong dunia usaha untuk mengurangi limbah, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan membangun rantai pasok yang lebih berkelanjutan.
Sementara di sektor pertanian, program Resilient Nature Cooperation Area berupaya memperkuat kapasitas petani kecil agar mampu menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus menjaga produktivitas lahan.
Upaya pelestarian lingkungan juga dilakukan melalui perlindungan ekosistem pesisir dan hutan mangrove yang memiliki fungsi penting sebagai penyerap karbon alami.
Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, keberadaan ekosistem seperti mangrove menjadi semakin strategis dalam mendukung target penurunan emisi nasional.
Lima Pilar Transisi Energi
Meski pendekatannya luas, sektor energi tetap menjadi fokus utama karena merupakan penyumbang emisi karbon terbesar di Indonesia.
Bersama Kementerian ESDM, GIZ mengembangkan berbagai program transisi energi yang bertumpu pada lima pilar utama.
Pilar pertama adalah memperkuat integrasi energi baru terbarukan ke dalam jaringan listrik nasional melalui proyek Renewable Energy to Grid (RE2GRID).
Tantangan terbesar energi surya dan angin adalah sifatnya yang tidak selalu stabil.
Karena itu, modernisasi sistem kelistrikan menjadi syarat utama agar energi bersih dapat dimanfaatkan secara optimal.
Pilar kedua adalah mendorong dekarbonisasi sektor industri dan pengembangan pasar karbon.
Melalui berbagai program pendampingan, perusahaan didorong menerapkan teknologi rendah emisi sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi dari perdagangan karbon yang mulai berkembang di Indonesia.
Pilar ketiga berkaitan dengan keadilan sosial dalam transisi energi.
Perubahan menuju energi bersih berpotensi memengaruhi daerah-daerah yang selama ini bergantung pada industri batu bara.