pontianak-insights

Menembus Batas Altar, Kiprah Kemanusiaan Tanpa Sekat Bruder Stephanus Paiman OFM Cap

Minggu, 14 Juni 2026 | 08:52 WIB
Br Stephanus Paiman OFC Cap berdiri di depan ambulans gratis yang selalu ia gunakan untuk melayani kaum marginal. (Dok. FRKP)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Di tengah dinamika sosial dan hukum di Kalimantan Barat, nama Bruder Stephanus Paiman OFM Cap, kerap berdiri di baris terdepan sebagai jangkar bagi mereka yang kehilangan suara.

Biarawan Katolik dari Ordo Saudara Dina Kapusin (OFM Cap) ini telah lama mendobrak dinding-dinding kaku institusi keagamaan untuk menghidupi imannya langsung di aspal jalanan, ruang sidang yang pengap, hingga di balik kemudi mobil ambulans.

Baca Juga: Profil Singkat Mgr Victorius Dwiardy OFM Cap: Panggilan Bersemi di Seminari St Paulus Nyarumkop, Pilih Kapusin

Melalui wadah Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak yang ia dirikan, Bruder Stephanus membangun sebuah ekosistem solidaritas yang sangat membumi.
 
Bagi masyarakat miskin kota maupun warga di pelosok pedalaman Kalimantan Barat, kehadiran gerakan relawan ini sering kali menjadi jawaban terakhir di saat-saat kritis.
 
Ketika sebuah keluarga tak mampu mendadak menghadapi situasi darurat seperti anggota keluarga yang sakit keras atau meninggal dunia, birokrasi yang rumit sering kali menjadi tembok penghalang.
 
Namun, lewat satu sambungan telepon langsung ke Bruder Stephanus, bantuan nyata berupa armada ambulans hampir selalu datang tanpa pakai lama.
 
Jika kondisi fisiknya sedang bugar dan tidak terikat agenda mendesak, pria ramah berwajah tegas ini tidak ragu untuk turun langsung memegang kemudi mobil demi menjemput warga yang sedang kesusahan.
 
Saat keterbatasan waktu menghalanginya, tugas mulia tersebut dialihkan kepada tangan kanannya yang tepercaya, Bang Ali.
 
Baca Juga: Profil Singkat Mgr Victorius Dwiardy OFM Cap: Masa Kecil, Terinspirasi Misionaris Kapusin di Bengkayang
 
Dedikasi tanpa pamrih dari sang sopir ambulans yang beragama Islam ini tidak hanya sekadar cerita tentang pelayanan, melainkan potret hidup bagaimana toleransi dipraktikkan tanpa sekat di bumi borneo.
 
Sebagai wujud penghargaan mendalam atas kesetiaan melayani sesama, Bruder Stephanus bahkan telah memberangkatkan Bang Ali ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah umrah.
 
Kiprah kemanusiaan yang inklusif ini berjalan selaras dengan keberaniannya dalam mengadvokasi keadilan hukum di Kalimantan Barat.
 
Di kalangan aparat penegak hukum, ia dikenal sebagai pengkritik yang sangat vokal terhadap praktik kriminalisasi buruh, lambatnya penanganan kasus rakyat kecil, hingga jaringan tindak pidana perdagangan orang.
 
Karakter paling menonjol dari sang biarawan adalah kerelaannya untuk pasang badan secara fisik, bahkan menawarkan dirinya sendiri sebagai jaminan penangguhan penahanan agar para pekerja kecil bisa kembali ke pelukan keluarga mereka.
 
Baca Juga: Mgr Victorius Dwiardy OFM Cap Ditahbisan Jadi Uskup: Hujan Berkat di Keuskupan Banjarmasin
 
Di sisi lain, figur eksentrik yang gemar mengendarai Vespa kuno bersama komunitasnya ini juga aktif merangkul anak-anak muda lintas iman mulai dari pemuda Muslim, Dayak, Tionghoa, hingga Melayu untuk bergotong-royong dalam aksi sosial dan kampanye lingkungan hidup.
 
Apa yang dilakukan oleh Bruder Stephanus Paiman memberikan sebuah catatan penting bagi publik bahwa esensi tertinggi dari sebuah nilai kemanusiaan adalah kesiapan untuk mengulurkan tangan lebar-lebar secara tulus kepada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja tanpa pernah memandang perbedaan latar belakang keyakinan. *** 

Tags

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB