pontianak-insights

Ekonomi Kreatif Jateng Butuh Aksi, Bukan Sekadar Wacana

Senin, 27 April 2026 | 20:58 WIB
Pelaku Kreatif Jawa Tengah Bertemu di Grobogan, Perkuat Kolaborasi Ekosistem Ekonomi Kreatif Daerah. (Dok. Istimewa )

PONTIANAKGLOBE.COM, GROBOGAN -- Pelaku ekonomi kreatif dari berbagai daerah di Jawa Tengah berkumpul di Grobogan pada 17 April 2026 dalam forum Unconference bertema retrospeksi ekosistem ekonomi kreatif daerah.

Acara ini menjadi pembuka rangkaian Jateng Creative Fest 2026 JCF#4 Collaboratorium dan menghadirkan unsur pemerintah, komite ekonomi kreatif, pelaku usaha, komunitas, hingga akademisi.

Berbeda dari forum formal, kegiatan ini berlangsung santai dan terbuka. Peserta tidak hanya menyampaikan ide, tetapi juga berbagi pengalaman, tantangan, serta harapan dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan di Jawa Tengah. Diskusi dipandu oleh Kurry Yusuf yang menjaga suasana tetap hangat namun tetap berbobot.

Baca Juga: Majikan Disebut Galak, Polisi Dalami Kasus

Berbagai isu strategis muncul, mulai dari akses pembiayaan, pendampingan pelaku kreatif, pemasaran produk, hingga perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disbudparekraf Jawa Tengah, Sarido Maksudi, menegaskan bahwa pemerintah harus berperan lebih dari sekadar regulator, yakni sebagai fasilitator dan problem solver bagi pelaku ekonomi kreatif.

Hal serupa disampaikan oleh Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Grobogan, Wahono, yang menilai sektor ekonomi kreatif kini menjadi penggerak penting transformasi ekonomi daerah berbasis ide, kreativitas, dan potensi lokal. Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan hukum bagi karya kreatif.

“Pemerintah daerah dan komite juga harus menjadi obat ketika pelaku ekraf mengalami penurunan, melalui diskusi dan pendampingan. Selain itu, berperan sebagai pimpinan bank yang mampu menghadirkan stimulus permodalan,” ujarnya.

Wakil Ketua Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, Bambang Supradono, menekankan pentingnya peran komite sebagai penggerak ekosistem. Ia menyebut inovasi tidak akan berkembang tanpa dukungan sistem yang kuat, mulai dari pembiayaan hingga jejaring kolaborasi.

Sementara itu, Executive Committee ICCN, Dimas Herdy Utomo, mengingatkan bahwa pembangunan daerah kreatif harus mencakup keseluruhan proses, dari ide, produksi, distribusi, konsumsi hingga konservasi agar ekosistem berjalan seimbang.

Baca Juga: Arogan? Sopir Pelat Merah Tak Beri Jalan Ambulans

Capaian Grobogan sebagai kabupaten kreatif subsektor kuliner tahun 2024 turut menjadi perhatian. Produk lokal Sego Japede disebut sebagai contoh nyata bagaimana potensi tradisional dapat diangkat menjadi identitas sekaligus sumber ekonomi daerah.

Forum ini menghasilkan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi menjadi langkah awal untuk aksi nyata dalam memperkuat ekonomi kreatif Jawa Tengah yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.***

Tags

Terkini