PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TENGAH -- Aktor sekaligus relawan Trisa Triandesa menyuarakan kondisi pendidikan pascabencana di wilayah Reje Payung, tepatnya di Kecamatan Linge.
Melalui unggahan di media sosial, Trisa mengungkap bahwa para siswa masih belajar dengan fasilitas terbatas, terutama kekurangan buku pelajaran yang rusak dan hanyut akibat bencana pada akhir November 2025.
Baca Juga: Tragis! Cucu Mpok Nori Tewas di Tangan Mantan Suami
Ia menyebut hingga awal Maret 2026, bantuan buku pelajaran belum juga diterima oleh guru maupun siswa.
“Sampai 9 Maret 2026, ketika saya di sana, belum ada nih buku pelajaran diterima oleh guru dan siswa. Habis lebaran mungkin, ya? Aamiin,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Trisa juga menyoroti bahwa lebih dari tiga bulan pascabencana, masih ada anak-anak yang belum bisa kembali bersekolah secara normal.
“Kemendikdasmen, izin, boleh nggak tolong dikirimkan buku pelajaran untuk anak-anak di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah ini? Karena udah lebih dari 3 bulan mereka nggak belajar,” ucapnya.
“Kalaupun belajar, hanya mengandalkan apa yang bisa diajarkan dengan segala keterbatasan oleh guru yang ada di sini,” lanjutnya.
Selain itu, ia turut mengungkap kondisi para tenaga pengajar di wilayah tersebut. Salah satu guru yang ditemuinya, bernama Pak Ijal, disebut hanya menerima gaji sebesar Rp250 ribu per bulan.
“Gurunya, kemarin saya ngobrol dengan Pak Ijal, dia itu gajinya Rp250.000 per bulan,” terangnya.
“Sekarang beliau itu ngajar dari kelas satu sampai kelas 6 di tenda BNPB. Semuanya disatuin dan mengajar dengan apa pun yang beliau masih bisa ajarkan dengan segala keterbatasannya,” tambahnya.
Baca Juga: Tiba-tiba Hilang dari Rutan, Yaqut Jadi Tahanan Rumah
Trisa juga menyatakan kesiapan para relawan untuk membantu proses distribusi bantuan jika dibutuhkan.
Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memiliki pagu anggaran sebesar Rp55,4 triliun pada tahun 2026. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyebut anggaran tersebut dialokasikan untuk sejumlah program prioritas, termasuk penguatan kompetensi guru, pengadaan sarana pendidikan, serta digitalisasi pembelajaran.
Kondisi ini menjadi sorotan karena di tengah alokasi anggaran besar, masih terdapat daerah terdampak bencana yang kesulitan mengakses kebutuhan dasar pendidikan.***