pontianak-insights

Arie Kriting Sentil Alumni LPDP dan Kasus Tragis Maluku

Senin, 23 Februari 2026 | 14:46 WIB
Menyoroti penuturan komika, Arie Kriting ihwal polemik yang membayangi anak bangsa hingga sempat viral di medsos. (Dok. Instagram.com/@arie_kriting)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Jagat media sosial dalam sepekan terakhir diramaikan dua peristiwa yang sama-sama menyita perhatian publik. Mulai dari video viral bertajuk ‘Cukup Saya WNI, Anak Jangan’ yang diunggah seorang alumni penerima beasiswa LPDP berinisial DS, hingga kasus dugaan penganiayaan siswa SMP di Maluku oleh anggota Brimob berinisial MS.

Video yang diunggah DS memicu kecaman warganet karena dinilai mencerminkan minimnya rasa nasionalisme. Pihak LPDP pun kini tengah menelusuri polemik tersebut. Unggahan itu dianggap melukai perasaan publik, mengingat beasiswa yang diterima bersumber dari dana pajak masyarakat.

Baca Juga: Main Biola di Lampu Merah, Mas Is Bikin Pengemudi Enggan Jalan

Di sisi lain, publik juga dikejutkan dengan kabar dugaan penganiayaan terhadap seorang pelajar 14 tahun di Maluku yang berujung meninggal dunia. MS telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Menanggapi dua isu itu, komika senior Arie Kriting turut menyampaikan pandangannya melalui akun Instagram @arie_kriting, Minggu (22/2/2026).

"Betapa membingungkan hidup di negara ini," tulis Arie membuka pernyataannya.

Ia mengaku terusik dengan pernyataan alumni LPDP yang viral tersebut. "Baru kemarin, rasa nasionalisme-ku terusik," kata Arie.

Menurutnya, sebagai penerima beasiswa yang bersumber dari pajak rakyat, pernyataan tersebut terasa menyakitkan.

"Seorang penerima beasiswa yang hidup dari uang pajak kita, merendahkan negara ini," ungkapnya.

"(Tertulis) 'Cukup aku yang WNI, anakku jangan', begitu katanya, membuat saya kesal juga," imbuh Arie.

Ia mengingatkan bahwa banyaknya persoalan di dalam negeri bukan alasan untuk mudah berpaling dari tanah kelahiran. "Hanya karena di negara ini banyak masalah, bukan berarti boleh semudah itu berkhianat," terangnya.

"Anakku tidak apa-apa terus menjadi WNI, kudoakan semoa dia bisa membawa bangsa ini kepada masa yang lebih baik dari sekarang," tambahnya.

Baca Juga: 21 Tahun Hidup di Jepang, Sastia Tetap Pilih Paspor Indonesia

Arie kemudian menyinggung kasus dugaan penganiayaan yang menimpa pelajar di Maluku. Ia menggambarkan kesedihannya atas peristiwa tersebut.

"Seorang pelajar, usianya masih 14 tahun, kepalanya remuk, dipukul, lalu tersungkur di atas tanah Maluku, nyawanya terenggut," paparnya.

Halaman:

Tags

Terkini