PONTIANAKGLOBE.COM - Dua tahun lalu, pada 2023, saya menghadiri pertemuan seluruh anggota Signis di Toraja — sebuah asosiasi media Katolik yang diakui oleh Vatikan. Saya hadir sebagai perwakilan Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak (KOMSOSKAP), yang kala itu memaparkan berbagai karya media seperti Radio Diah Rosanti, Majalah DUTA, serta sejumlah buku dan proyek tahunan KOMSOS di wilayah Keuskupan Agung Pontianak.
Tema utama pertemuan waktu itu adalah Artificial Intelligence (AI) — sebuah topik yang kini menjadi percakapan global, bahkan di ruang-ruang yang biasanya lebih banyak berbicara tentang iman, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Diskusi yang terjadi di Toraja waktu itu membuka ruang refleksi mendalam: bagaimana manusia dapat membaca perkembangan teknologi ini secara kritis, dan bagaimana kita dapat menulis ulang relasi kita dengan mesin secara bijaksana.
AI dan Fenomena “Penumpulan Akal”
AI kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang menggunakannya untuk mempercepat pekerjaan, menghemat waktu, dan meningkatkan produktivitas. Aplikasi seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude mampu merangkai teks, menjawab pertanyaan, bahkan menulis proposal bisnis atau naskah akademik. Bagi banyak orang, AI seperti asisten virtual serba bisa — efisien, cepat, dan selalu siap.
Namun, di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan filosofis yang mendalam: apakah manusia sedang mengalami penurunan daya berpikir kritis dan kreativitas, akibat ketergantungan terhadap alat yang “berpikir” untuknya?
Saya menyebutnya sebagai fenomena “penumpulan akal” — ketika otak manusia, karena terlalu sering dibantu mesin, mulai kehilangan kelincahannya. Sama seperti otot yang jarang digunakan, kemampuan reflektif dan analitis manusia perlahan melemah.
Fenomena ini bukan hal baru dalam sejarah peradaban. Dalam konteks manajemen, setiap kali teknologi baru muncul — mulai dari mesin cetak, komputer, hingga internet — selalu ada ketegangan antara efisiensi dan makna. Organisasi modern cenderung mengejar efisiensi tanpa henti, tetapi sering lupa bahwa efisiensi yang berlebihan dapat mengikis daya hidup dan motivasi manusia yang menjadi penggeraknya.
Manajemen Motivasi di Era Otomasi
Dalam teori manajemen modern, motivasi tidak lagi dilihat semata sebagai dorongan eksternal seperti gaji atau bonus. Para ahli seperti Frederick Herzberg (1923-2000; seorang psikolog spesialis bidang kesehatan mental industri dan seorang profesor yang mengajar di Universitas Utah, Amerika Serikat) dan Douglas McGregor (1906-1964; seorang psikolog sosial, profesor manajemen di MIT, dan presiden Antioch College, yang paling dikenal karena Teori X dan Teori Y tentang motivasi kerja) menekankan pentingnya motivasi intrinsik — yakni kebutuhan manusia untuk merasa bermakna, berkembang, dan diakui.
Ketika AI mengambil alih sebagian besar pekerjaan analitis, administratif, atau bahkan kreatif, risiko yang muncul adalah hilangnya rasa memiliki terhadap hasil kerja. Pekerjaan menjadi otomatisasi tanpa jiwa. Dalam konteks organisasi, ini menimbulkan apa yang disebut “alienasi digital” — di mana karyawan merasa terpisah dari makna pekerjaannya karena sebagian besar prosesnya dilakukan mesin.
Padahal, dalam manajemen yang sehat, manusia adalah subjek utama, bukan sekadar pelengkap dari sistem. Budaya organisasi yang kuat selalu menempatkan manusia di pusatnya — dengan mengembangkan kreativitas, empati, dan kolaborasi.
Maka, tantangan bagi pemimpin organisasi hari ini bukan sekadar bagaimana memanfaatkan AI untuk efisiensi, tetapi bagaimana menggunakannya tanpa menghilangkan dimensi manusiawi dari pekerjaan. AI seharusnya menjadi alat yang me-Merdeka-kan waktu dan pikiran manusia, bukan alat yang menggantikan seluruh eksistensinya.
Budaya Organisasi