Membaca dan menulis secara kritis adalah bentuk perlawanan lembut terhadap penumpulan akal di era digital. Ia bukan sekadar kegiatan literasi, melainkan latihan spiritual dan intelektual agar manusia tidak kehilangan jati dirinya.
Dalam manajemen, membaca dan menulis kritis berarti memimpin dengan kesadaran jika dalam sudut pandang ekonomi, berarti berproduksi dengan etika, dan menjaga jarak reflektif antara manusia dan alatnya.
AI akan terus berkembang, dan kita akan terus menggunakannya. Namun seperti pesan dari Sakamoto, kekuatan sejati bukan terletak pada alat, melainkan pada manusia yang tahu kapan dan bagaimana menggunakannya.
Tugas kita hari ini yakni membangun budaya organisasi yang tetap berakar pada kemanusiaan — budaya yang tidak takut dengan teknologi, tetapi juga tidak tunduk padanya. Karena di ujungnya, bukan alat yang menentukan masa depan kita, melainkan akal budi yang tetap tajam, nurani yang tetap peka, dan motivasi yang lahir dari kesadaran akan makna kerja itu sendiri. Semoga!!!
*Penulis: Samuel - Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, San Agustin Kampus II.