PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TAMIANG -- Desa Sekumur di Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling berat akibat banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025. Pasca bencana, desa ini dipenuhi lumpur tebal serta kayu-kayu besar yang terbawa arus deras.
Derasnya banjir menyeret material dalam jumlah besar hingga membuat sejumlah rumah warga hanyut dan kawasan permukiman tampak porak-poranda. Infrastruktur pun lumpuh, jembatan penghubung rusak, dan akses menuju desa hanya dapat ditempuh menggunakan perahu milik nelayan.
Baca Juga: Danantara Pasang Target, Asuransi Umum dan Penjaminan Tak Boleh Campur
Dua bulan setelah bencana, kehidupan warga mulai perlahan berjalan kembali. Aktivitas sehari-hari berangsur pulih, termasuk kegiatan belajar mengajar yang tetap dilaksanakan meski dengan segala keterbatasan.
Sebuah unggahan di akun Instagram @rizkyjafarthalib.official memperlihatkan seorang siswa sekolah dasar berjalan menuju sekolah sambil membawa meja lipat sendiri.
“Perjuangan murid yang ke sekolah dalam keadaan sekolahnya hancur, harus bawa bangku sendiri. Berjalan kaki di tengah teriknya matahari,” tulis keterangan unggahan tersebut, dikutip pada Senin (2/2/2026).
Dalam video yang sama, terlihat kondisi sekitar sekolah masih dipenuhi lumpur yang telah mengering serta tumpukan kayu sisa banjir bandang.
Semangat tidak hanya datang dari para siswa. Para guru juga tetap berupaya menjalankan tugas mengajar di tengah keterbatasan akses. Salah seorang guru dalam video tersebut menceritakan perubahan besar dalam kesehariannya sejak bencana terjadi.
“Sekarang kalau mau pulang, jalan kaki sampai mau nyeberang pakai boat. Biasanya bawa motor, tapi ini kan jalannya baru kebuka dua hari, jadi belum bawa motor lagi,” ucap guru tersebut.
Potret kegigihan siswa dan guru di Desa Sekumur itu pun menuai simpati dan kekaguman dari warganet. Banyak yang memuji semangat belajar dan dedikasi para pendidik meski berada dalam kondisi sulit.
Baca Juga: Pelajar Lampung Timur Seberangi Sungai Pakai Rakit, Pemerintah Baru Janji Jembatan
Sebelumnya, jembatan utama yang menjadi akses masuk ke Desa Sekumur hanyut terbawa banjir, membuat desa tersebut sempat terisolasi total. Warga harus menyeberangi sungai menggunakan perahu nelayan untuk keluar masuk wilayah tersebut.
Perjalanan menuju Desa Sekumur dari Kota Tamiang kini memakan waktu sekitar dua jam. Sementara dampak bencana yang ditimbulkan cukup besar, tercatat sekitar 1.232 jiwa dari 276 kepala keluarga di desa tersebut kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang dan longsor.***