Huntara tersebut dirancang menampung 117 kepala keluarga dalam 24 barak, dengan target penyelesaian pada 2 Januari 2026. Namun hingga kini, progres pembangunan baru mencapai sekitar 4 persen.
Pembangunan huntara melibatkan personel gabungan dari TNI, BPBD, Dinas PUPR Kabupaten Agam, serta BNPB, dengan dukungan berbagai alat berat.
Untuk penanganan darurat dan pemulihan, sebanyak 60 unit alat berat telah dikerahkan, terdiri atas excavator, dump truck, wheel loader, dan bulldozer.
Baca Juga: Di Tengah Banjir, Warga Aceh Justru Menangisi Nasib Anak-anak Gaza
Di lapangan, tim BNPB terus memantau distribusi logistik di Posko Utama Kabupaten Agam di Lubuk Basung, berkoordinasi terkait perbaikan jalur transportasi, serta mengawasi proses pembangunan huntara, mulai dari pekerjaan cut and fill, pemasangan dinding GRC, pembuatan pondasi, hingga penambahan alat berat.
Meski demikian, proses pengecoran huntara masih terkendala oleh keterbatasan pasokan air.
Untuk mempercepat penanganan, BNPB merekomendasikan penyediaan sumber air yang memadai guna mendukung pembangunan huntara, serta penambahan enam tenaga tukang sipil.
Pemerintah daerah bersama BNPB terus mengupayakan percepatan penanganan darurat dan pemulihan pascabencana agar masyarakat Kabupaten Agam dapat segera bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara normal.***