pontianak-insights

Kebun Lenyap, Harapan Pendidikan Anak Ikut Tenggelam

Selasa, 16 Desember 2025 | 21:49 WIB
Seorang warga di Aceh Tamiang yang berharap mendapat bantuan karena terdampak banjir. (Dok. TikTok/13u_d4hl4n)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TAMIANG -- Duka mendalam menyelimuti warga Desa Juara, Kecamatan Sekarak, Aceh Tamiang, pascabanjir yang menghantam wilayah tersebut. Di tengah sisa-sisa kehancuran, seorang pria tak mampu membendung air mata saat menceritakan bagaimana bencana itu merenggut seluruh sumber penghidupan keluarganya.

Kisah memilukan tersebut terekam dalam sebuah video yang diunggah akun TikTok @13u_d4hl4n pada Selasa, 16 Desember 2025. Video itu memperlihatkan potret nyata runtuhnya ekonomi warga di pelosok Aceh Tamiang akibat terjangan banjir.

Baca Juga: Tinjau Langsung Pengungsian, Suharyanto Tekankan Respon Cepat Bencana di Aceh dan Sumatera

Dengan suara bergetar dan tangis yang pecah, pria tersebut mencoba menerima kenyataan pahit bahwa kebun yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarganya telah musnah tanpa sisa.

“Mau bilang apa, Tuhan berkata begini, kami terima, kebun saya juga habis enggak ada lagi,” ucapnya lirih.

Kebun Lenyap, Harapan Ikut Hilang

Hilangnya kebun bukan sekadar kehilangan harta benda, melainkan juga pupusnya harapan masa depan. Ia mengaku kini diliputi kecemasan karena tidak lagi memiliki kemampuan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.

“Untuk ke depannya untuk bayar sekolah anak saya sudah tak sanggup lagi,” imbuhnya.

Tanpa penghasilan dan tanpa simpanan, pria tersebut kini hanya bisa menggantungkan harapan pada bantuan relawan dan para dermawan yang datang ke desanya. Dengan penuh kerendahan hati, ia memohon agar keluarganya tidak dibiarkan berjuang sendirian.

“Kami mohon para relawan, bantu kami,” katanya penuh harap.

Baca Juga: Tanpa Kabar Kepala Keluarga, Seorang Ibu Berjuang Sendirian di Pengungsian

Harapan Sederhana Seorang Ayah

Di tengah kehilangan besar yang dialaminya, permintaan pria tersebut terbilang sangat sederhana. Baginya, bisa mendapatkan makanan untuk bertahan hidup hari ini saja sudah menjadi nikmat yang patut disyukuri.

“Kami tidak mengharapkan lebih, kami bisa dapat makan, Alhamdulillah,” pungkasnya.

Kisah dari Desa Juara ini menjadi pengingat bahwa setelah air banjir surut, luka ekonomi dan beban mental justru baru benar-benar dirasakan. Banyak orang tua kini harus memulai dari nol demi bertahan hidup dan menjaga masa depan pendidikan anak-anak mereka.***

Tags

Terkini