pontianak-insights

Rais Aam Ambil Kendali: PBNU Sidik Fakta, Siapa yang Akan Terseret?

Senin, 1 Desember 2025 | 12:24 WIB
Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar tegaskan pencopotan Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum PBNU. (Dok. Pontianak Globe)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan pencopotan KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum PBNU. Gus Yahya dinyatakan tidak lagi memegang mandat sejak 26 November 2025 pukul 00.45 WIB setelah rapat pada 20 November 2025.

Dengan keputusan itu, menurut Miftachul, Gus Yahya tidak memiliki kewenangan maupun penggunaan atribut sebagai Ketua Umum PBNU, sementara seluruh otoritas organisasi kini berada di bawah Rais Aam.

Baca Juga: Akses Masih Lumpuh, Suharyanto Kerahkan 50 Tentara Jalan Kaki Bawa Logistik ke Warga Terjebak

Keputusan tersebut muncul setelah pertemuan dengan 36 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) yang disebut memahami konteks keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU. Para pengurus wilayah memberikan dukungan penuh kepada Rais Aam untuk menindaklanjuti langkah organisasi ke depan.

Rais Aam Miftachul Akhyar juga menyampaikan bahwa PBNU membentuk tim pencari fakta (TPF) untuk menelusuri berbagai kabar yang ramai dibicarakan publik.

“Setelah mencermati dinamika di masyarakat, termasuk berbagai informasi dan opini di media arus utama dan media sosial, kami memberikan perhatian secara khusus,” ujarnya dalam konferensi pers di kantor PWNU Jawa Timur, Sabtu, 29 November 2025.

"Untuk mendapatkan kesahihan dari berbagai informasi tersebut, kami akan menugaskan tim pencari fakta untuk melakukan investigasi secara utuh dan mendalam terhadap berbagai informasi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat,” lanjutnya.

TPF tersebut akan dipimpin Wakil Rais Aam PBNU KH Anwar Iskandar dan KH Afifuddin Muhajir. Selain itu, PBNU disebut akan segera menggelar muktamar agar roda organisasi tetap berjalan normal, namun jadwal pelaksanaannya belum dijelaskan.

“Untuk memastikan berjalannya roda organisasi secara normal, maka akan dilaksanakan rapat pleno atau muktamar dalam waktu segera,” kata Miftachul.

Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum dalam Muktamar NU ke-34 di Lampung pada Desember 2021 untuk masa jabatan 2021–2026.

Namun, masa kepemimpinannya sempat diwarnai sejumlah kontroversi. Salah satunya ketika Akademi Kepemimpinan Nasional NU menghadirkan akademisi zionis Peter Berkowitz.

Baca Juga: Hadiri Jalan Santai PWI, Kapolri Tekankan Pentingnya Sinergi dengan Pers

Kehadirannya dianggap bertentangan dengan prinsip NU. Gus Yahya saat itu mengatakan tidak mengetahui latar belakang pro-zionis Peter.

Polemik itu juga memicu desakan agar ia mundur dari jabatan Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (UI) dari kelompok mahasiswa yang pro-Palestina.

Selain itu, Gus Yahya menuai sorotan ketika membahas rencana pemberian izin konsesi tambang kepada PBNU dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo pada Agustus 2024.***

Tags

Terkini