pontianak-insights

Siklon Ganda Picu Bencana, BNPB Ungkap Kerusakan Menggila di Tapanuli Tengah

Minggu, 30 November 2025 | 07:31 WIB
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto (tengah) menyampaikan beberapa perkembangan terkait penanganan bencana di Sumatera Utara. (Dok. BNPB)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, melaporkan perkembangan terbaru penanganan banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera: Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Hingga Jumat, 28 November 2025 petang, BNPB mencatat 116 orang meninggal dunia dan 42 lainnya masih dicari.

Dalam keterangannya, Suharyanto menyebut bencana ini dipicu hujan ekstrem yang dipengaruhi Siklon Senyar dan Siklon Koto. Kedua siklon tersebut menciptakan pola cuaca tak biasa di kawasan Sumatera bagian utara.

"Diguyur hujan sangat lebat karena ada siklon Senyar dan siklon Koto. Ini fenomena alam yang jarang terjadi tapi terjadi di wilayah Sumatera bagian utara," kata Suharyanto.

Baca Juga: Dibandingkan Era Habibie, Rocky Gerung Nilai Whoosh Mundur Jauh dari Kemajuan Teknologi

Ia juga menyampaikan bahwa Tapanuli Tengah menjadi wilayah dengan kerusakan paling berat. Informasi awal sempat menyebut Sibolga sebagai daerah terdampak terparah, namun hasil pemantauan justru menunjukkan situasi berbeda.

"Berita awal tuh Sibolga yang parah, ternyata setelah kita sampai di sini Sibolga justru tidak terlalu parah, justru yang parah Tapanuli Tengah," ujarnya.

"Kabupaten yang paling parah terdampak bencana ini adalah Tapanuli Tengah," tambahnya.

Kerusakan dilaporkan terjadi di sejumlah kecamatan, meliputi rumah warga, fasilitas umum, serta jalur akses yang terputus. Tim gabungan masih terus melakukan evakuasi dan pencarian korban.

Untuk mendukung koordinasi di lapangan, BNPB mengerahkan jaringan komunikasi darurat berbasis Starlink di titik-titik terdampak. Langkah ini diambil karena banyaknya wilayah yang kehilangan jaringan akibat kerusakan infrastruktur.

"Langkah kami adalah kita memasang jalur komunikasi darurat jadi menggunakan Starlink," ungkap Suharyanto.

"Sudah didistribusikan baik ke pemerintah daerah, baik ke titik pengungsian maupun kepada satgas TNI," lanjutnya.

Baca Juga: Rocky Gerung Sebut Prabowo Tersandera Legacy Lama, Tapi Bersinar di Panggung Dunia

Terkait status bencana, Suharyanto menegaskan peristiwa ini masih dikategorikan sebagai bencana daerah tingkat provinsi.

"Yang dimaksud dengan status bencana nasional yang pernah ditetapkan oleh Indonesia itu kan COVID-19," jelasnya.

"Sekarang statusnya masih bencana daerah tingkat provinsi," pungkasnya.

Halaman:

Tags

Terkini