pontianak-insights

Kejanggalan Mencuat, Pakar Dorong Transparansi Kasus Dirut BJB

Selasa, 25 November 2025 | 20:53 WIB
Atribut polri ditemukan di mobil yang mengalami kecelakaan di tol Lampung dan membawa ratusan ribu narkoba. (Dok. TikTok/CNR_24)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Usai bermain golf, Direktur Utama Bank BJB Yusuf Saadudin meninggal dunia pada Jumat, 14 November 2025. Peristiwa itu kembali menimbulkan tanda tanya karena terjadi secara mendadak tanpa penjelasan rinci dari pihak bank maupun otoritas terkait.

Praktisi hukum sekaligus Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Hukum UPN Veteran Jakarta, Beniharmoni Harefa, menilai bahwa kematian tersebut perlu diselidiki secara menyeluruh.

Baca Juga: Program Kedelai Pemerintah Dikritik DPR: Sudah 60 Persen Tapi Belum Jelas Hasilnya

Ia menyampaikan belasungkawa mendalam, namun menegaskan bahwa langkah investigasi sangat penting untuk menghindari spekulasi publik.

“Agar publik tidak bertanya-tanya karena kepergian almarhum tergolong tidak wajar karena masih bermain golf. Beberapa kejanggalan lainnya juga karena sebelumnya tidak ada sakit atau tanda-tanda medis,” ujar Beniharmoni kepada Kilat.com, Sabtu (22/11/2025). 

“Karena itu saya melihat sangat wajar bila masyarakat bertanya. Justru penyelidikan yang terbuka akan menjawab keraguan publik dan mencegah isu liar berkembang," tegasnya. 

Beniharmoni menegaskan bahwa penyelidikan tidak dimaksudkan untuk menuduh pihak tertentu, melainkan untuk memastikan proses yang akuntabel.

“Ini untuk memastikan akuntabilitas dan memberikan jawaban yang jelas kepada pemangku kepentingan, seperti nasabah, pemegang saham, dan masyarakat luas,” katanya.

 “Transparansi adalah kunci. Ketika pejabat publik atau pimpinan institusi strategis wafat secara tiba-tiba, publik berhak mengetahui fakta utuhnya," ujarnya. 

Baca Juga: Pemulung Tewas Akibat Memotong Mortir: Warga Babelan Geger, Gegana Brimob Bergerak

Ia menilai bahwa tanpa klarifikasi resmi dari pihak berwenang maupun manajemen BJB, misteri penyebab wafatnya pimpinan bank daerah terbesar di Indonesia itu akan terus menjadi bahan spekulasi.

Beniharmoni mendorong agar BJB bersikap proaktif memberikan penjelasan dan membuka ruang bagi investigasi profesional.

Menurutnya, transparansi merupakan bagian dari tata kelola perusahaan yang baik, terlebih BJB adalah perusahaan terbuka yang wajib menjaga kepercayaan publik serta stabilitas pasar. Hingga kini, Bank BJB belum memberikan pernyataan resmi mengenai kronologi lengkap wafatnya Yusuf Saadudin.***

Tags

Terkini