pontianak-insights

Perencanaan Modern vs Sun Tzu

Sabtu, 1 November 2025 | 11:26 WIB
Gambar Samuel dan Aan Baget (Artis Dayak Kalbar) saat menjadi undangan di Konser Weng Coffie Pontianak (Samuel)

PONTIANAKGLOBE.COM | Dalam dunia manajemen modern, perencanaan dianggap sebagai fungsi pertama dan paling mendasar. Henry Fayol, General and Industrial Management (1925), salah satu pelopor teori manajemen, menegaskan bahwa fungsi manajemen dimulai dari perencanaan, lalu diikuti pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian.

Tanpa perencanaan, organisasi hanya berjalan seperti kapal tanpa kompas.

Namun menariknya, jauh sebelum ilmu manajemen modern dirumuskan, seorang filsuf perang dari Tiongkok kuno telah mengajarkan seni merencanakan dengan cara yang tak kalah relevan. Dialah Sun Tzu, (kebetulan salah satu koleksian buku favorit penulis) The Art of War, yang cukup sering dikutip dalam dunia manajemen strategi, marketing dan kepemimpinan.

Pertanyaan pentingnya, bagaimana jika kita menyandingkan perencanaan ala manajemen modern dengan strategi perencanaan Sun Tzu? Apakah keduanya bisa saling melengkapi, atau justru bertentangan?

Rasional, Sistematis, Terukur

Buku Management karya Harold Koontz dan Heinz Weihrich menyebut perencanaan sebagai proses sistematis untuk menentukan tujuan organisasi dan memilih cara terbaik untuk mencapainya.

Perencanaan dalam manajemen dibagi menurut jangka waktu (jangka panjang, menengah, pendek), tingkat manajerial (strategis, taktis, operasional), sifat (sekali pakai atau berulang), hingga fleksibilitasnya. Model ini sangat logis—ada struktur, alur, dan ukuran keberhasilan yang jelas.

Perencanaan strategis, misalnya, disusun oleh manajemen puncak, berlangsung dalam rentang lima hingga sepuluh tahun, dan berhubungan dengan arah besar perusahaan.

PMB San Agustin 2025 -2026 (Media Center )

Perencanaan taktis kemudian dijabarkan oleh manajemen menengah dalam bentuk program kerja dua sampai tiga tahun. Perencanaan operasional diterjemahkan dalam tindakan harian seperti SOP, jadwal kerja, dan target produksi.

Dalam model modern, perencanaan menuntut adanya tools seperti SWOT, PESTEL, Balanced Scorecard, hingga Porter’s Five Forces. Kerangka ini membuat manajemen bersifat rasional dan berbasis data.

Dalam teori manajemen Peter Drucker, “What gets measured gets managed”—apa yang dihitung, itulah yang bisa dikendalikan. Maka tidak heran, perencanaan modern identik dengan angka, target, dan indikator kinerja (KPI).

Perencanaan ala Sun Tzu

Berbeda dengan itu, Sun Tzu—melalui buku klasik The Art of War—melihat perencanaan sebagai seni memenangkan pertempuran tanpa perlu berperang.

Halaman:

Tags

Terkini