PONTIANAKGLOBE.COM | Di tengah dunia yang semakin bising dan kompetitif, pertanyaan terpenting bagi pelaku usaha Kalimantan Barat hari ini bukan lagi apa yang dijual, melainkan bagaimana menempatkan diri di benak masyarakat. Inilah hakikat posisioning—konsep penting dalam ilmu marketing yang kini kian relevan di tengah perubahan ekonomi dan sosial daerah.
Pontianak dan Kalimantan Barat sudah bergerak menuju ekonomi digital, ekonomi kreatif, dan kemandirian lokal. Namun, dalam arus perubahan itu, kita perlu memahami satu hal mendasar, masyarakat tidak hanya membeli barang, mereka membeli makna. Mereka membeli cerita, identitas, dan posisi suatu merek dalam kehidupan mereka.
Belajar dari Para Pemikir Marketing
Tiga buku klasik marketing memberi fondasi kuat untuk memahami posisioning secara utuh. Pertama, Positioning: The Battle for Your Mind karya Al Ries dan Jack Trout menegaskan bahwa kunci marketing bukanlah membuat produk baru, melainkan menempatkan sesuatu dalam pikiran calon pelanggan.
“Posisioning bukan tentang apa yang Anda lakukan terhadap produk, tetapi tentang apa yang Anda lakukan terhadap pikiran orang,” tulis dalam buku itu.
Kedua, dalam Marketing Management, Philip Kotler dan Kevin Lane Keller menjelaskan bahwa posisioning adalah tahap akhir dari strategi segmentasi–targeting–positioning (STP). Setelah menentukan siapa target pasar, perusahaan perlu merancang citra dan tawaran yang menempati tempat unik di benak kelompok itu.
“Anda tidak bisa menjadi segalanya bagi semua orang,” tulis Kotler. Maka, memilih posisi berarti berani membatasi diri pada makna tertentu.
Ketiga, David A. Aaker dalam Building Strong Brands mengingatkan bahwa merek yang kuat harus memiliki identitas yang koheren. Posisioning, menurutnya, adalah ekspresi strategis dari identitas merek—bukan hanya janji fungsional, tetapi juga pernyataan emosional dan sosial. Merek yang baik, kata Aaker, adalah merek yang tahu siapa dirinya, untuk siapa ia ada, dan mengapa kehadirannya penting.
Ketiga buku di atas, bila dibaca dalam konteks Kalimantan Barat, mengajarkan tentang posisioning bukan sekadar teknik menjual, tetapi strategi membangun arti keberadaan dalam pikiran masyarakat.
Antara Pertumbuhan dan Identitas
Di tinjau dari data tahun lalu, Kalimantan Barat tengah mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 4,9 persen pada 2024, didorong oleh sektor perdagangan, pertanian, dan industri pengolahan. Pemerintah provinsi bersama Bank Indonesia menekankan pentingnya digitalisasi UMKM sebagai motor baru pembangunan.
Pontianak menjadi contoh menarik. Di kota ini, ribuan UMKM mulai memanfaatkan platform digital, media sosial, dan e-commerce untuk memperluas pasar. Namun, di balik angka dan teknologi, ada persoalan lebih mendasar, bagaimana produk-produk lokal ini dikenal dan diingat oleh masyarakat?
Sebagai provinsi perbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Barat punya potensi lintas budaya yang kaya. Masyarakatnya majemuk—Dayak, Melayu, Tionghoa, Madura, Bugis, dan banyak lainnya. Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi posisioning. Dari merek, lembaga, atau bahkan pemerintah daerah perlu menegaskan identitas khas Kalimantan Barat yang berbeda dari daerah lain, tetapi tetap terbuka bagi dunia luar.