Posisioning sebagai Strategi Identitas
Jika mengikuti Ries & Trout, langkah pertama dalam posisioning adalah mendengarkan apa yang sudah ada di pikiran masyarakat. Misalnya, apa yang muncul di benak orang ketika mendengar “produk Kalimantan Barat”? Sebagian mungkin teringat komoditas seperti sawit atau karet, sebagian lain membayangkan kopi, tenun, atau kuliner khas Pontianak.
Maka, tugas utama pelaku usaha adalah mengelola persepsi itu. Merek lokal harus berani mengambil posisi yang jelas, misalnya sebagai “produk otentik Kalimantan Barat yang modern dan berkelanjutan.” Posisi ini menegaskan dua hal tentang kebanggaan terhadap identitas lokal dan kemampuan beradaptasi dengan zaman.
Sebagai contoh, sebuah merek tenun asal Kalbar dapat menempatkan dirinya bukan sekadar sebagai penyedia kain, melainkan pembawa cerita, tentang petani di pedalaman, tentang filosofi tanah Kalimantan, tentang perjalanan budaya di sepanjang Sungai Kapuas. Di sinilah posisioning menjadi jembatan antara ekonomi dan identitas.
Dimensi Politik dan Sosial
Posisioning tidak berdiri di ruang hampa. Ia dipengaruhi oleh kebijakan, politik, dan struktur sosial-ekonomi. Di Kalimantan Barat, kebijakan pembangunan infrastruktur dan digitalisasi memberi ruang besar bagi munculnya merek dan identitas lokal baru. Tetapi politik juga bisa menjadi tantangan jika tidak dikelola secara inklusif.
Karena itu, posisioning seharusnya tidak hanya memikirkan keuntungan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan sosial. Merek atau institusi yang cerdas akan menempatkan diri sebagai penyatu nilai—membangun solidaritas lintas etnis, menghargai lingkungan, dan memperkuat kebanggaan daerah.
Posisioning seperti ini lebih dari sekadar strategi pemasaran, ia merupakan pernyataan moral - bahwa ekonomi lokal dapat tumbuh tanpa kehilangan akar budaya.
UMKM dan Ekonomi Kreatif Pontianak
Banyak UMKM baru di Pontianak kini belajar membangun posisioning yang cukup kuat. Sebuah produsen baju tradisional misalnya, tidak lagi hanya menjual motif, melainkan menjual cerita. Cerita yang dibawa itupun dikemas dengan merepresentasikan sejarah dan filosofi masyarakat Kalimantan Barat. Sebuah penyewaan pakaian adat tidak lagi hanya menjual cita rasa, tetapi juga pengalaman—ruang pertemuan bagi budaya yang beragam.
Inilah kekuatan ekonomi kreatif, mengubah produk menjadi narasi, dan konsumen menjadi bagian dari cerita itu.
Namun, tantangan terbesar tetap ada, konsistensi dan keberlanjutan. Posisioning hanya bertahan jika identitasnya dijaga. Jika merek lokal terlalu cepat meniru tren luar tanpa adaptasi, ia kehilangan daya pikatnya. Sebaliknya, jika ia terlalu eksklusif dengan “lokalitas” tanpa inovasi, ia bisa terjebak dalam romantisme.
Kunci keseimbangan itulah yang perlu dicapai, antara tradisi dan modernitas, antara akar dan sayap.
Menjadi Diri Sendiri di Tengah Dunia