Pendidikan dimulai dari transformasi diri
Dalam pemaparannya, Uskup Samuel mengajak peserta seminar melihat perjalanan hidup Santo Fransiskus Assisi sebagai proses pendidikan karakter yang dimulai dari transformasi diri.
Menurut dia, sebelum menjadi tokoh besar dalam Gereja, Santo Fransiskus merupakan seorang anak muda yang hidup berkecukupan, mengejar popularitas, dan menikmati berbagai kemewahan. Namun pengalaman kegagalan, sakit, hingga dipenjara mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Uskup Samuel menggarisbawahi bahwa pengalaman itu, Fransiskus mulai bertanya mengenai makna hidup dan mencari kehendak Allah.
"Mencari kehendak Allah bukanlah hal yang gampang. Menanggalkan diri, menemukan diri, dan meninggalkan diri bukanlah hal yang gampang," ujar Uskup Samuel.
Dia mengatakan pertobatan Santo Fransiskus berlangsung melalui proses panjang yang ditandai dengan doa, keheningan, pendampingan rohani, dan keberanian meninggalkan ego.
Menurutnya, proses tersebut menjadi pelajaran penting bagi dunia pendidikan karena pembentukan karakter memerlukan waktu, ketekunan, dan kesediaan untuk terus berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Kampus perlu melahirkan pembawa damai
Uskup Samuel menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang kompeten di bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk pribadi yang mampu menghadirkan perdamaian di tengah masyarakat.
Dia mengatakan kedamaian sejati lahir ketika seseorang telah berdamai dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan.
"Kalau kita memiliki kedamaian, kita mampu menerima apa pun. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan," katanya.
Menurut dia, lulusan perguruan tinggi diharapkan menjadi agen perubahan yang mengedepankan dialog, menghormati perbedaan, dan membangun persaudaraan di tengah masyarakat yang semakin majemuk.
Kepedulian ekologis bagian dari tanggung jawab akademik
Isu lingkungan hidup juga menjadi perhatian dalam seminar tersebut. Menjawab pertanyaan peserta mengenai kerusakan lingkungan, Uskup Samuel mengatakan persoalan ekologis tidak hanya berkaitan dengan kebijakan, tetapi juga menyangkut karakter manusia.