Krisis Air Bersih dan Trauma Hantui Penyintas di Aceh Tamiang

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Senin, 16 Februari 2026 | 21:43 WIB
Menyoroti kabar terkini para pengungsi banjir bandang di Aceh Tamiang yang disebut masih dibayangi trauma atas bencana yang pernah melanda. (Dok. Instagram.com/@masjidnurulashri)
Menyoroti kabar terkini para pengungsi banjir bandang di Aceh Tamiang yang disebut masih dibayangi trauma atas bencana yang pernah melanda. (Dok. Instagram.com/@masjidnurulashri)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TAMIANG -- Hampir tiga bulan setelah banjir bandang dan tanah longsor menerjang Aceh Tamiang pada akhir November 2025, warga setempat dilaporkan masih bergulat dengan trauma mendalam.

Bencana tersebut menyebabkan ribuan korban jiwa serta kerusakan luas di sejumlah desa, bahkan dampaknya turut dirasakan di beberapa wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Baca Juga: Satire Jalan Rusak, Anak-anak Asyik Berenang di Kubangan Lumpur

Kini, rasa cemas masih menghantui sebagian warga. Dalam unggahan Instagram @masjidnurulashri pada Senin (16/2/2026) terlihat pengungsi berlarian menuju masjid setiap kali hujan turun, sebagai bentuk antisipasi jika bencana kembali terjadi.

"Di Aceh Tamiang, jangankan berpikir makan apa esok hari, kebanyakan warga di sini kalau hujan masih lari ke masjid," demikian tertulis dalam postingan tersebut.

"Kalau hujan turun sedikit saja, warga di sini langsung was-was, masih banyak yang harus mengungsi ke masjid, numpang aman semalaman," tambahnya.

Kondisi ini menunjukkan trauma yang belum sepenuhnya pulih. Selain tekanan psikologis, warga juga masih menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, terutama air bersih.

Baca Juga: Terjebak Macet di Rel, Kendaraan Angkot Nyaris Tertemper Commuter Line

Dalam unggahan tersebut disebutkan, untuk mendapatkan air bersih warga harus membawa ember dan berjalan kaki cukup jauh. Akses air yang sebelumnya mudah kini menjadi perjuangan harian bagi para penyintas.

"Air bersih pun nggak tinggal buka keran, mereka harus bawa ember, jalan kaki cukup jauh, demi bisa masak dan bertahan," ungkap postingan tersebut.

Relawan dari berbagai daerah masih terus berdatangan untuk membantu memenuhi kebutuhan para korban.

Sementara itu, masyarakat berharap perhatian dan dukungan dari otoritas terus berlanjut agar para penyintas dapat menata kembali kehidupan mereka dengan lebih layak dan aman.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X