Banjir Aceh Tamiang: Bertahan di Atap Rumah Menunggu Air Surut

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Senin, 9 Februari 2026 | 13:50 WIB
Cerita warga Aceh Tamiang saat banjir mulai datang menggenangi kawasan permukiman warga. (Dok. Instagram/keila_dwi_putri_real)
Cerita warga Aceh Tamiang saat banjir mulai datang menggenangi kawasan permukiman warga. (Dok. Instagram/keila_dwi_putri_real)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TAMIANG -- Lebih dari dua bulan setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025, kenangan saat menghadapi bencana tersebut masih membekas bagi para penyintas. Salah satu kisah datang dari warga Kuala Simpang, Aceh Tamiang, yang bahu-membahu menyelamatkan diri ketika banjir mulai merendam permukiman mereka.

Melalui unggahan Instagram @keila_dwi_putri_real pada Minggu (8/2/2026), ia membagikan pengalaman keluarganya bersama para tetangga yang harus bertahan di rooftop rumah selama hampir dua minggu. Saat air mulai memasuki rumah, ia berinisiatif membeli sembako untuk persediaan sementara. Dalam video terlihat ketinggian air sudah mencapai setengah badan mobil yang dikendarainya.

“Kami kejar-kejaran dengan kuota air yang semakin naik, nekat terus nerobos banjir walau sensor mobil terus bunyi karena yang kami pikir, saat itu kami harus sampai rumah dan nggak kebawa arus di jalan,” tuturnya.

Baca Juga: CCTV Krendang Selatan Bikin Heboh, Polisi Ungkap Fakta Sebenarnya

Barang-barang di dalam rumah sempat dipindahkan ke tempat lebih tinggi. Namun, usaha itu akhirnya terhenti karena air terus naik hingga memenuhi seluruh bagian rumah.

“Aku langsung prepare tempat buat evakuasi barang ke lebih tinggi. Bingung sebagian barang nggak tahu harus evakuasi ke mana dan akhirnya pasrah aja,” imbuhnya.

Ketika air semakin meninggi, para tetangga berdatangan untuk mencari tempat aman bersama. Mereka naik ke loteng rumah saat air hampir mencapai tangga, sementara di antara mereka terdapat balita dan dua orang lanjut usia yang sedang sakit.

“Ke tempat yang paling tinggi, menuju loteng. Bawah, air sudah mau mencapai tangga. Banyak balita dan ada dua orang tua yang sakit. Ini barang udah mulai mengapung,” sambungnya.

Situasi yang semakin berbahaya membuat mereka akhirnya naik ke rooftop dan berjaga sepanjang malam.

“Khawatir jika kami tertidur, air bisa mencapai kami dan kami akhirnya melek sampai pagi,” lanjutnya.

Dalam video terlihat warga mendirikan tenda di rooftop dengan kondisi rumah di sekitar yang masih terendam banjir. Mereka membawa bekal makanan dan peralatan memasak yang masih bisa diselamatkan dan bertahan selama hampir 12 hari hingga air surut.

“Aku dan tetangga baik ke rooftop rumah dan bangun tenda, bawa bekal makanan dan peralatan masak yang masih bisa selamat. 12 hari kamu bertahan menunggu banjir surut,” paparnya.

Baca Juga: Nobar Final Futsal, Teddy Sebut Timnas Futsal Sudah Tampil Maksimal di Final

Pada masa awal setelah banjir, mereka menghadapi krisis air bersih dan keterbatasan makanan, sambil membersihkan lumpur dari rumah masing-masing.

“Kami bersihkan lumpur rumah masing-masing, bertahan hidup tanpa air bersih, makanan tidak steril, malam kehujanan dan panas terik di bawah tenda,” sambungnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X